Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Hana menyandarkan punggungnya dengan napas yang masih memburu. Ia menangkup kedua pipinya yang terasa sepanas setrikaan.
Bayangan tatapan intens Arlan di meja makan tadi seolah terpahat di pelupuk matanya. Senyumnya terukir tanpa sadar, namun sedetik kemudian ia mengerang pelan sambil menenggelamkan wajahnya di bantal.
"Aduh, Hana... Malu banget! Bisa-bisanya kamu bahas skripsi di tengah momen sekeren itu," rutuknya pada diri sendiri.
Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalanya, mencoba meredam debaran jantung yang masih belum mau berkompromi.
Pikirannya dipenuhi satu tanya, Bagaimana caranya menatap wajah Mas Arlan besok pagi tanpa terlihat salah tingkah?
Keesokan harinya, matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela ruang tengah. Hana sudah bersiap dengan pakaian rapi, siap untuk berangkat mengambil laptop lamanya.
Namun, Arlan turun dari lantai atas bukan dengan kunci mobil, melainkan menjinjing sebuah tas laptop berwarna abu-abu elegan. Ia meletakkannya di depan Hana.
"Gunakan ini saja," ucap Arlan lembut.
Hana mengernyit heran.
"Ini punya siapa, Mas?"
"Ini laptop milik Inggit dulu. Dia menggunakannya khusus untuk urusan bisnis dengan Kamu Hana. Untuk urusan kantor lainnya, dia punya perangkat sendiri. Tapi untuk segala hal yang berhubungan dengan kamu, Inggit memisahkannya. Dia bahkan menyimpan banyak dokumentasi momen kalian di sini," jelas Arlan sembari menerima secangkir teh hangat dari Bi Ina.
Hana tertegun. Ia tidak menyangka bahwa Inggit begitu mengistimewakan hubungan mereka hingga menyediakan ruang digital khusus. Dengan tangan sedikit bergetar, Hana mengeluarkan laptop itu dan menyalakannya.
"Ada sandinya, Mas," ucap Hana saat layar meminta akses masuk.
"Ketikkan angka 140599," sahut Arlan tenang setelah menyesap tehnya.
Hana mengetik angka tersebut, namun gerakannya terhenti di digit terakhir. Ia menoleh cepat ke arah Arlan dengan tatapan tidak percaya.
"Mas... ini kan tanggal lahirku?"
Arlan tersen…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 51: Rahasia di Balik Sandi dan Teror yang Mengintai
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments