Hari-hari berikutnya berlalu seperti aliran air yang tenang, membasuh sisa-sisa lumpur trauma yang sempat mengendap di dalam jiwa Hana.
Di bawah pengawasan ketat dan penuh kasih sayang dari Arlan, serta asupan gizi yang selalu dijaga oleh Umi dan Mama, kondisi fisik Hana berangsur-angsur pulih sepenuhnya. Kehamilannya dinyatakan sangat sehat oleh dokter.
Meskipun usia kandungannya sudah merangkak naik, perut buncitnya masih belum terlalu kentara di balik gamis-gamis longgar yang biasa ia kenakan, hanya menyisakan gurat kehangatan yang membuat aura keibuannya kian terpancar nyata.
Sore itu, langit di luar jendela kamar mereka berwarna jingga senja yang syahdu. Hana sedang duduk di tepi ranjang, melipat beberapa pakaian bersih, ketika Arlan masuk dan langsung mengambil posisi duduk di hadapannya.
Pria itu meraih sepasang tangan Hana, menggenggamnya erat sembari menatap manik mata istrinya dengan tatapan yang teramat dalam dan serius.
"Sayang," panggil Arlan lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan Hana.
"Mas punya satu keinginan yang sejak lama Mas simpan. Mas ingin kita menggelar resepsi pernikahan yang layak untukmu."
Hana sempat tertegun, gerakannya terhenti. Memori kepalanya otomatis berputar ke belakang. Dulu, mereka memang hanya melangsungkan akad nikah yang sangat sederhana, sunyi, dan jauh dari sorot publik.
Kala itu, mental Hana dipenuhi oleh beraneka ragam tekanan dan overthinking yang mencekik dadanya. Ia takut dicap negatif oleh publik sebagai wanita yang merebut suami dari almarhumah Inggit. Ia cemas orang-orang akan menghakiminya dengan tuduhan miring bahwa ia mau menikah dengan dosennya sendiri karena mengincar harta atau motif terselubung lainnya.
Ketakutan akan omongan orang lain sempat membuat Hana memilih untuk bersembunyi dalam bayang-bayang.
Namun kini, setelah melewati badai besar dan melihat bagaimana cara Arlan memperlakukannya, bagaimana pria itu mempertaruhkan seluruh hidup, waktu, dan cintanya yang luar biasa hanya demi menjemputnya kemb…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 88: Berdiri untuk Bahagia
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments