Di dalam kabin mobil yang melaju tenang, keheningan menyelimuti Hana. Ia menatap jalanan dari balik jendela, namun pikirannya tertahan pada satu kata yang diucapkan Dila tadi, Kampus.
Tempat yang dulu ia cintai, kini terasa seperti medan perang yang menakutkan.
Arlan melirik sekilas, menyadari kegelisahan yang terukir jelas di wajah istrinya. Sebagai dosen, ia tahu persis bahwa besok adalah tenggat pengambilan SK judul skripsi.
"Hana," panggil Arlan lembut.
"Soal skripsi... kalau kamu mau, saya akan menarik kamu menjadi mahasiswa bimbingan saya langsung."
Hana menoleh, matanya membelalak kecil.
"Memangnya bisa, Mas?"
"Bisa. Setiap dosen punya kuota mandiri untuk memilih mahasiswa bimbingan sebelum sisanya ditentukan oleh Kaprodi. Saya ingin kamu merasa aman. Jika saya pembimbingmu, kita bisa melakukan asistensi di rumah. Kamu tidak perlu terus-menerus ke kampus atau bertemu banyak orang jika belum siap," jelas Arlan dengan nada pelindung yang sangat kental.
Hana terdiam. Tawaran itu sangat menggiurkan, sebuah "zona nyaman" yang ditawarkan Arlan di tengah badai traumanya. Namun, ada sesuatu di dalam lubuk hatinya yang berbisik lain. Ia tidak ingin selamanya bersembunyi di balik punggung suaminya.
"Mas..." Hana menjeda, jemarinya bertautan erat.
"Sebelum aku memutuskan soal pembimbing... aku ingin bertemu Dokter Sarah. Hari ini. Sekarang, kalau beliau ada waktu."
Arlan tertegun. Biasanya, butuh bujuk rayu dari Mama atau dirinya sendiri agar Hana mau berangkat terapi. Mendengar Hana memintanya sendiri adalah sebuah kemajuan besar, sebuah sinyal bahwa bunga yang sempat layu itu sedang mencoba mencari cahaya matahari. Tanpa membuang waktu, Arlan mengangguk dan segera menghubungi klinik.
***
Ruangan Dokter Sarah selalu terasa hangat. Aroma terapi lavender dan alunan musik instrumen yang sangat pelan membuat detak jantung Hana yang tadinya berpacu cepat, perlahan mulai teratur. Dokter Sarah tersenyum menyambutnya, sebuah senyum yang tidak menghakimi.
"Apa yang membuat Hana…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 39: Bukan di Balik Punggungmu
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments