Keesokan harinya, gedung lantai utama Arlan Perkasa Group tampak begitu sibuk. Langkah kaki Hana terasa mantap saat ia berjalan di koridor khusus direksi, jemarinya bertautan erat dalam genggaman Arlan.
Pria itu menuntunnya dengan langkah tegas menuju ruang rapat legal, tempat berkas-berkas pengalihan aset dan saham peninggalan Inggit sudah dipersiapkan oleh tim hukum perusahaan.
Namun, baru saja Hana duduk di kursi dekat meja marmer panjang dan seorang pengacara hendak membuka map dokumen, pintu ganda ruang rapat itu didorong terbuka dengan paksa. Keheningan ruangan seketika pecah.
"Batalkan semuanya! Jangan berani-berani menandatangani dokumen itu!"
Suara pekikan melengking itu membuat semua orang di dalam ruangan menoleh. Mama Maya, masuk dengan napas memburu, didampingi oleh Siska yang menatap Hana dengan pandangan penuh permusuhan dan kebencian yang berkilat-kilat.
Arlan langsung bangkit berdiri, menggeser tubuhnya selangkah ke depan untuk memasang badan di hadapan Hana. Aura dingin "dosen kulkas" miliknya seketika menguar hebat, menekan atmosfer ruangan menjadi begitu pekat.
"Siapa yang mengizinkan kalian masuk ke ruang direksi tanpa janji temu?" tanya Arlan, suaranya rendah namun bergetar penuh ancaman yang mematikan.
Siska melangkah maju tanpa takut, menunjuk wajah Hana dengan telunjuknya yang gemetar.
"Kami tidak butuh izin untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi hak keluarga kami, Pak Arlan! Perempuan pelakor ini tidak punya hak sepeser pun atas saham dan aset peninggalan Kak Inggit! Dia itu cuma orang luar, perempuan miskin yang mau panjat sosial menggunakan nama besar kakak saya!"
"Jaga ucapanmu, Siska," desis Arlan, matanya menyipit tajam.
"Saham yang sedang diurus hari ini adalah saham beku yang melibatkan modal saya dan murni jerih payah Inggit. Tidak ada hubungannya dengan kalian."
Mama Maya ikut menyela, wajah paruh bayanya tampak mengeras karena keserakahan.
"Arlan, kamu tidak bisa egois begini! Kami ini orang tua Inggit! Kami yang membesarkann…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 69: Benteng yang Tak Lagi Diam
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments