Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela ruang makan, namun suasana di meja makan masih terasa seperti musim dingin.
Hana duduk dengan kepala tertunduk, fokus pada nasi gorengnya. Kejadian "rambut tergerai" semalam masih berputar di kepalanya, membuatnya merasa malu bahkan hanya untuk sekadar menatap mata Arlan.
Arlan, yang menyadari kegelisahan Hana, berdehem pelan untuk memecah keheningan.
"Hana, hari ini Bi Ina akan mulai bekerja lagi. Kemarin dia cuti seminggu karena ada urusan di kampungnya."
Hana mendongak sedikit, lalu mengangguk.
"Oh, iya... Bi Ina. Saya ingat, Mas."
Hana mengenal Bi Ina. Asisten rumah tangga Arlan itu adalah sosok paruh baya yang energinya seolah tidak pernah habis. Dia ceria, lucu, dan selalu punya cerita untuk memecah kekakuan. Hana merasa sedikit lega, setidaknya keberadaan Bi Ina nanti akan menjadi "jembatan" yang mengurangi kecanggungan di antara mereka berdua.
Namun, ketenangan pagi itu hancur berantakan saat suara pagar dibuka dengan kasar terdengar dari depan. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka tanpa ketukan. Siska masuk dengan langkah angkuh, wajahnya tampak tidak bersahabat.
"Mas Arlan! Aku mau ambil barang-barang Mbak Inggit sekarang. Koleksi tas, baju-baju bermereknya, dan perhiasannya. Daripada tidak terpakai dan malah cuma dipakai sama 'orang baru' di sini, lebih baik aku yang simpan!" seru Siska tanpa basa-basi.
Hana yang sedang memegang gelas, tersentak. Ia hanya bisa terdiam melihat Siska mulai membuka lemari pajangan di ruang tengah dengan serakah.
Arlan bangkit dari duduknya, ia masih mencoba mengontrol emosi. Laki-laki itu hanya berdiri diam mematikan, memperhatikan Siska yang mulai memasukkan beberapa tas mahal ke dalam kantong besar yang ia bawa.
Puncaknya adalah saat Siska meraih sebuah kotak beludru biru dari laci nakas di ruang tengah. Kotak itu berisi cincin pernikahan Arlan dan Inggit yang sengaja disimpan Arlan sebagai kenangan.
Saat itulah, aura di ruangan itu berubah drastis. Sisi dingin Arlan yang b…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 18: Batas Kesabaran dan Segelas Air Penawar
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments