Cahaya lampu tidur yang temaram menyelimuti kamar dengan nuansa hangat. Hana perlahan membuka matanya, merasakan sebuah beban hangat yang melingkar posesif di perutnya.
Jantungnya seketika berdegup kencang, memompa darah hingga ke ujung jemari saat ia menyadari bahwa Arlan tidur di sebelahnya, bahkan sedang memeluknya erat.
Memang benar hubungan mereka semakin akrab, namun tidur dalam satu dekapan seperti ini adalah wilayah baru yang belum pernah mereka jamah. Arlan, yang merasakan pergerakan kecil dari istrinya, perlahan mulai terusik dari tidurnya.
"Hana? Kamu terbangun?" Suara Arlan terdengar serak khas orang bangun tidur.
Ia menarik tangannya, lalu menempelkan punggung tangannya ke kening Hana. Ada helaan napas lega yang panjang.
"Alhamdulillah, demamnya sudah turun."
Arlan menatap Hana lekat-lekat. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa sentimeter di atas bantal yang sama membuat Hana salah tingkah. Oksigen di sekitar mereka mendadak terasa tipis.
"Hana..." panggil Arlan lembut.
"Hmm... iya, Mas," sahut Hana.
Ia berusaha keras mengatur napasnya agar tidak terdengar gugup.
Tanpa diduga, Arlan sedikit mengubah posisinya. Ia memeluk Hana dari samping, menyandarkan dagunya di bahu istrinya itu. Tindakan protektif ini sukses membuat Hana menahan napas.
"Saya minta maaf karena sikap saya yang dingin tadi sore. Saya tidak bermaksud menyakitimu," bisik Arlan tepat di telinga Hana, nada suaranya penuh penyesalan yang tulus.
"Saya tahu pernikahan ini terjadi karena wasiat Inggit. Tapi, Hana... bagaimanapun kamu adalah istri saya. Rasanya ada yang tidak nyaman di hati saya ketika melihatmu terlihat begitu bahagia berbicara dengan laki-laki lain tadi."
Di balik kegugupannya, sebuah senyum kecil mengembang di bibir Hana. Ia merasa menang sedikit.
"Mas... sedang cemburu, ya?" tebak Hana berani.
Arlan terdiam sesaat, seolah sedang berdamai dengan harga dirinya sebagai seorang dosen yang biasanya kaku. Kemudian, ia mengangguk pelan.
"Jika perasaan tidak nyaman ini namanya ce…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 49: Sapu Tangan Biru dan Perut yang Berkhianat
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments