Bau apek dan hawa dingin menyambut kedatangan Mama Maya, ibu kandung almarhumah Inggit ruang kunjungan penjara. Wajahnya yang biasanya penuh polesan kosmetik mahal, kini tampak tegang dan menyimpan amarah yang meluap. Di depannya, Romi duduk dengan bahu merosot.
"Bagaimana kamu bisa sebodoh ini, Romi?" desis Mama Maya, suaranya ditekan agar tidak memancing perhatian petugas.
"Mama sudah bilang, kalau mau bertindak itu pakai otak! Sekarang lihat, kamu malah meringkuk di sini seperti pecundang!"
Romi menunduk, meremas jemarinya yang gemetar.
"Ma, Romi minta maaf. Romi nggak nyangka bakal ketahuan. Romi sudah pakai akun anonim, pakai jasa orang untuk mengaburkan jejak digital... Romi nggak tahu kalau Mas Arlan bisa secepat itu melacak semuanya. Mas Arlan... dia seperti punya mata di mana-mana."
"Tentu saja! Arlan bukan orang sembarangan, dia CEO dan dosen, koneksinya luas!" Mama Maya menggebrak meja pelan.
"Kenapa kamu harus menyerang Hana lewat cara murahan begitu? Kamu tahu kan Arlan sedang sangat protektif padanya?"
"Romi cuma nggak rela, Ma! Romi sakit hati karena dia lebih milih Mas Arlan, padahal Romi sudah mengejarnya lama. Romi ingin dia merasakan apa itu kehancuran nama baik," bela Romi dengan sisa-sisa egonya. Ia lalu menatap ibunya dengan tatapan memohon.
"Ma, tolong Romi. Keluarkan Romi dari sini. Romi nggak tahan, Ma. Tempat ini bukan untuk Romi."
Mama Maya menatap putra bungsunya dengan perasaan campur aduk, kesal karena kecerobohan Romi, namun rasa sayang sebagai ibu tetap lebih mendominasi. Ia menghela napas panjang.
"Mama akan berusaha, meski kemungkinannya kecil karena Arlan sendiri yang menutup semua akses jaminanmu," ucap Mama Maya dingin.
"Sekarang diam dan jangan bicara apa-apa lagi pada polisi sebelum pengacara Mama datang."
Setelah kunjungan berakhir, Mama Maya melangkah keluar dengan langkah terburu-buru. Ia segera menghubungi pengacara pribadinya. Di dalam benaknya, ia tidak akan membiarkan putra kesayangannya mendekam di penjara, meskipun itu…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 40: Dinding yang Mulai Mengikis
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments