Aroma khas rumah sakit yang tajam menyeruak saat pintu ruang rawat inap terbuka. Di atas ranjang, Hana tampak begitu mungil, kontras dengan tumpukan bantal dan selang infus yang menempel di punggung tangannya. Tak lama setelah dipindahkan dari IGD, kelopak mata yang sembab itu bergerak perlahan, terbuka sedikit demi sedikit untuk menghadapi dunia yang baru saja membuatnya tumbang.
"Ya Allah, sayang... Mama khawatir sekali." Mama Hana langsung menghambur, memeluk putrinya dengan isak tangis yang tertahan. Tangannya yang gemetar mengusap kening Hana yang masih terasa dingin.
Hana mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat tercecer. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang didominasi warna putih itu. Di sana, berdiri sang Papa dengan wajah yang tampak menua sepuluh tahun dalam semalam, dan di sudut ruangan, ada sosok Arlan yang berdiri mematung. Tatapan pria itu terkunci pada Hana, penuh dengan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Hana baik-baik saja, Ma. Hanya sedikit kecapekan," bisik Hana parau.
Suaranya hampir hilang, namun ia tetap berusaha memberikan senyum tipis untuk menenangkan ibunya.
"Mulai sekarang, jangan pergi sendirian lagi ya, Nak. Papa tidak sanggup melihatmu seperti ini," ucap sang Papa sambil menggenggam tangan Hana yang lain.
Hana hanya mengangguk lemah. Tubuhnya memang sudah stabil, tapi jiwanya masih terasa remuk.
Hana kemudian mengalihkan pandangannya pada Arlan. Ada keheningan panjang sebelum akhirnya bibir pucat itu bergerak.
"Pak Arlan..."
Arlan tersentak kecil, ia melangkah mendekat hingga berdiri tepat di sisi ranjang.
"Iya, Hana?"
"Saya... saya akan memberikan jawaban atas permintaan Bapak sekarang," ucap Hana.
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Arlan tertegun, matanya membelalak kecil.
"Hana, jangan ambil keputusan sekarang. Kondisimu belum stabil, emosimu masih kacau karena kejadian di makam tadi. Kamu masih punya waktu beberapa hari lagi sesuai janjimu. Jangan terburu-buru," tutur Arlan dengan nada tegas namun…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 10: Keputusan di Ujung Lelah
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments