Di sebuah sudut restoran hotel yang privat dan tenang, Arlan duduk dengan punggung tegak. Di hadapannya, duduk dua orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya sebagai mertua, Papa Malik dan Mama Maya.
Suasana awalnya terasa formal dan dingin, seperti biasanya. Namun, Arlan tahu, kedua orang ini tidak pernah datang tanpa sebuah kepentingan yang mendesak.
"Arlan, Nak..." Mama Maya membuka suara, mencoba memasang wajah sendu yang dipaksakan.
"Papa dan Mama datang karena ingin bicara soal Romi. Kamu tahu, dia itu adik bungsu Inggit. Dia masih muda, darahnya masih panas. Dia tidak sengaja melakukan itu, Arlan."
Arlan hanya diam, menyesap kopi hitamnya tanpa ekspresi. Dingin mata Arlan membuat Papa Malik berdehem canggung.
"Kami mohon, Lan. Cabut tuntutanmu. Romi itu satu-satunya anak laki-laki kami yang bisa diandalkan nanti. Jangan biarkan masa depannya hancur hanya karena... ya, karena masalah kecil dengan gadis itu," tambah Papa Malik.
Mendengar frasa 'masalah kecil', tangan Arlan yang memegang cangkir sedikit menegang. Ia meletakkan cangkirnya perlahan, menimbulkan denting halus yang seolah membelah keheningan.
"Masalah kecil?" Arlan mengulang kalimat itu dengan nada rendah yang bergetar karena emosi yang mulai tersulut.
"Menghancurkan mental seseorang, menyebar fitnah keji, dan merusak harga diri seorang wanita yang tidak bersalah... kalian sebut itu masalah kecil?"
"Arlan! Kamu ini kenapa jadi lebih membela wanita itu daripada keluarga sendiri?" suara Mama Maya mulai meninggi, topeng kesedihannya retak.
"Ingat, Romi itu darah daging Inggit! Kamu berutang budi pada Inggit!"
BRAK!
Arlan tidak menggebrak meja dengan keras, namun ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja dengan penekanan yang membuat Papa Malik dan Mama Maya tersentak. Wibawa Arlan yang biasanya tenang, kini berubah menjadi aura intimidasi yang pekat.
"Keluarga?" Arlan terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan.
"Baru sekarang kalian bicara soal keluarga? Di mana kalian s…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 46: Retaknya Topeng Sang Pemuja Warisan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments