BUMM… BUMM… BUMM…
Tanah desa bergetar pelan.
Suara langkah kaki pasukan Raven menggema dari bukit utara seperti guntur yang mendekat perlahan.
Dan semakin dekat mereka…
Semakin jelas satu kenyataan mengerikan:
The 10th Battalion sedang menghadapi perang terbesar mereka sejauh ini.
Puluhan obor berubah jadi ratusan.
Armor hitam memantulkan cahaya api malam. Tombak dan pedang terlihat seperti lautan besi yang bergerak perlahan turun dari bukit.
Di paling depan—
Raven berjalan santai sambil membawa pedang hitam besarnya di pundak.
Tatapannya lurus ke arah desa.
Ke arah Gerald.
“…Anjir.”
Elias berdiri di atas pagar sambil wajah pucat.
“Itu banyak banget…”
Bahkan Doran sekarang diam.
Dan itu membuat suasana makin berat.
Karena pria sebesar Doran pun sadar—
Malam ini bukan permainan lagi.
“Jumlah?” tanya Gerald tenang.
Kael langsung menjawab cepat.
“Mungkin lebih dari dua ratus.”
Beberapa anggota batalion langsung gemetar.
“Dua ratus?!”
“Kita mati…”
“Mana mungkin menang…”
Kepanikan mulai menyebar.
Dan Gerald tahu…
Ini yang Raven mau.
Menekan mental mereka sebelum perang dimulai.
Namun sebelum kepanikan makin besar—
BRAKK!!
Gerald menghantam tombaknya ke tanah.
Suara keras itu langsung membuat semua orang diam.
Tatapannya menyapu seluruh desa.
“Kalian mau lari?”
Tak ada yang menjawab.
“Kalau lari sekarang…”
Ia menunjuk gelap hutan di belakang desa.
“…di luar tetap ada orc.”
Keheningan turun.
“Kalian mau menyerah?”
Tatapannya kini mengarah ke pasukan Raven di kejauhan.
“…Menurut kalian Raven bakal biarin kalian hidup tenang?”
Tak ada yang bisa menjawab.
Karena mereka tahu: jawabannya tidak.
Gerald melanjutkan:
“Kalau begitu berhenti gemetar.”
Suaranya tenang.
Namun keras.
“Kita gak butuh jadi lebih kuat dari mereka.”
Ia perlahan mencabut pedangnya.
CLANG…
“…kita cuma perlu bikin mereka berdarah lebih banyak.”
Keheningan berubah.
Perlahan… orang-orang mulai tenang.
Karena anehnya— setiap Gerald bicara seperti itu…
Mereka mulai percaya bahwa perang ini masih bisa dimenangkan.…
The 10th Battalion
Lautan Obor
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 300 Episodes
Comments