BAB 2 - Rutinitas Yang Hampa

Pagi di kota itu selalu datang dengan cara yang hampir sama, seolah waktu berjalan mengikuti pola yang sudah ditentukan sejak lama. Jalanan mulai ramai bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi, suara kendaraan bercampur dengan langkah kaki orang-orang yang terburu mengejar rutinitas. Di antara semua itu, Airel Virellia berjalan dengan ritme yang pas, tidak terlalu cepat, tidak pula lambat, seperti seseorang yang sudah tahu bagaimana caranya bergerak tanpa menarik perhatian.

Tas selempangnya tergantung rapi di bahu, bergerak ringan mengikuti langkahnya. Rambut panjangnya diikat setengah, menyisakan beberapa helai yang jatuh di sisi wajah, membuat penampilannya terlihat sederhana tanpa usaha berlebihan. Ia tampak seperti mahasiswi pada umumnya, tidak mencolok tetapi tetap mudah dikenali jika diperhatikan lebih lama.

Ia berhenti di depan gerbang kampus, menatap papan nama yang warnanya mulai pudar dimakan waktu. Tempat ini sudah menjadi bagian dari hidupnya selama beberapa tahun terakhir, mengisi hari-harinya dengan rutinitas yang terus berulang. Kelas, tugas, dan percakapan ringan dengan teman-teman berjalan sebagaimana mestinya, tanpa banyak perubahan yang berarti.

Orang-orang menyebutnya normal.

Dan ia tidak pernah merasa perlu membantahnya.

“Airel, kamu datang lagi pagi banget.”

Suara itu membuatnya menoleh, memperlihatkan Kalista Renaya yang berjalan mendekat dengan langkah ringan. Senyumnya lebar seperti biasa, membawa energi yang terasa terlalu besar untuk ukuran pagi hari.

“Kamu juga,” jawab Airel singkat, meski ada sedikit lengkungan di sudut bibirnya.

Kalista berjalan di sampingnya saat mereka memasuki area kampus, sesekali menyapa orang yang lewat. “Aku ada kelas pagi, jelas harus datang awal. Tapi kamu kan enggak. Ngapain sih tiap hari datang sepagi ini?”

Pertanyaan itu terdengar santai, seperti obrolan biasa yang tidak menuntut jawaban serius. Namun Airel tahu, jika ia menjawab jujur, percakapan itu tidak akan berhenti hanya di sana.

Ia melirik jam di pergelangan tangannya.

08.12.

Jarum detiknya bergerak perlahan, stabil, tanpa peduli pada apa pun di sekitarnya. Airel menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengalihkan pandangan seolah tidak ada yang perlu dipikirkan.

“Kebiasaan,” katanya singkat.

Kalista mendesah pelan, jelas tidak puas. “Kamu selalu bilang begitu. Kebiasaan apa coba, datang sebelum semua orang juga belum pada siap?”

Airel tidak menjawab. Ia melanjutkan langkahnya, membiarkan suara sepatu mereka mengisi jeda yang tercipta di antara percakapan. Kalista akhirnya ikut diam, meski raut wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang belum hilang.

Mereka sampai di depan gedung fakultas, di mana beberapa mahasiswa sudah mulai berkumpul. Ada yang duduk di tangga sambil bermain ponsel, ada yang berdiri sambil tertawa bersama teman-temannya. Suasana terasa hidup, seperti pagi-pagi lainnya.

Airel berhenti sebentar.

Matanya kembali turun ke jam.

08.15.

Perubahan kecil muncul di wajahnya, begitu tipis hingga hampir tidak terlihat oleh siapa pun. Seperti seseorang yang menunggu sesuatu terjadi tepat di detik itu, tetapi tidak pernah benar-benar datang.

Ia menarik napas pelan, lalu melangkah masuk ke dalam gedung tanpa mengatakan apa-apa.

“Kamu aneh,” gumam Kalista, cukup pelan tetapi tetap terdengar jelas.

Airel hanya tersenyum tipis, tidak mencoba membantah atau menjelaskan.

Hari berjalan seperti biasa, tanpa kejadian yang benar-benar berbeda. Airel duduk di kelas, mencatat hal-hal penting, dan sesekali mengangkat kepala saat dosen menekankan poin tertentu. Ia tampak fokus, cukup aktif saat diperlukan, dan tidak pernah terlihat tertinggal.

Bagi orang lain, semuanya terlihat baik-baik saja.

Namun ada momen yang selalu berulang, seperti bagian dari rutinitas yang tidak pernah ia lewatkan.

Di tengah penjelasan dosen yang panjang, Airel menunduk sedikit. Matanya kembali tertuju pada jam di tangannya, seperti sesuatu yang otomatis terjadi tanpa perlu dipikirkan.

12.27.

Jarum detik bergerak mendekati angka berikutnya, stabil dan tanpa ragu.

12.28.

Napasnya tertahan tanpa ia sadari, tubuhnya sedikit lebih diam dibanding sebelumnya.

12.29.

Ia menunggu.

12.30.

Tidak ada perubahan apa pun di sekitarnya. Suara dosen tetap terdengar, teman-temannya masih sibuk mencatat, dan dunia berjalan seperti biasa. Namun Airel tetap diam beberapa detik lebih lama, seolah memberi ruang bagi sesuatu yang mungkin datang terlambat.

Baru setelah itu ia mengangkat kepalanya kembali, kembali mengikuti pelajaran seperti tidak terjadi apa-apa.

“Airel.”

Ia sedikit tersentak saat namanya dipanggil, lalu langsung menatap ke depan.

“Coba kamu jelaskan poin terakhir yang saya sampaikan.”

Beberapa mahasiswa langsung menoleh ke arahnya, sementara Kalista menyikut pelan dari samping sebagai isyarat. Airel menarik napas sebentar, lalu menjelaskan dengan tenang, kata-katanya tersusun rapi tanpa terdengar ragu.

Dosen itu mengangguk puas. “Baik.”

Kelas kembali berjalan seperti biasa.

Namun Kalista masih menatapnya dengan ekspresi penuh tanya.

“Kamu tadi bengong, kan?” bisiknya pelan.

“Enggak,” jawab Airel cepat, tanpa menoleh.

“Kamu lihat jam lagi,” lanjut Kalista. “Aku perhatiin dari tadi.”

Airel terdiam sesaat. Ia tidak menyangkal, tetapi juga tidak memberi penjelasan.

“Itu cuma kebiasaan,” katanya lagi, nada suaranya tetap datar.

Kalista menghela napas panjang, lalu bersandar di kursinya. “Kebiasaan kamu makin aneh.”

Airel tidak menanggapi.

Ia sudah terlalu sering mendengar hal itu.

Siang beralih menjadi sore dengan cara yang hampir tidak terasa. Setelah kelas selesai, sebagian mahasiswa langsung pulang, sementara yang lain memilih berkumpul di sekitar kampus. Suasana perlahan menjadi lebih tenang, menyisakan langkah kaki yang semakin jarang terdengar.

Airel berjalan keluar dari gedung, langkahnya tetap sama seperti pagi tadi. Kalista sempat menarik lengannya, mencoba mengajaknya ke kafe dekat kampus, tetapi ia hanya menggeleng pelan.

“Aku ada urusan,” katanya singkat.

Kalista menatapnya dengan curiga, tetapi akhirnya mengangguk. “Kamu selalu punya urusan setiap sore.”

Airel tersenyum kecil. “Mungkin.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh, karena ia tahu penjelasannya tidak akan terdengar masuk akal bagi siapa pun.

Langkahnya menjauh dari area kampus, melewati jalan yang mulai dipenuhi lampu-lampu sore. Ia tidak perlu berpikir ke mana harus pergi, karena tubuhnya sudah terbiasa mengikuti arah itu tanpa ragu.

Sebuah halte tua di ujung jalan.

Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya sesekali diisi oleh orang-orang yang datang dan pergi. Catnya mulai mengelupas, bangkunya dingin, dan lampu di atasnya sering berkedip tanpa pola yang jelas.

Airel berhenti di sana.

Matanya langsung menyapu area sekitar, seperti mencari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.

Ia duduk di bangku paling ujung, meletakkan tas di sampingnya. Tangannya kembali bergerak, melihat jam di pergelangan tangannya.

17.42.

Angin sore berembus pelan, membawa aroma jalanan yang mulai berubah seiring datangnya malam. Beberapa kendaraan lewat tanpa berhenti, suaranya cepat menghilang setelah menjauh.

Airel menatap lurus ke depan.

Waktu berjalan perlahan.

17.43.

17.44.

Ia tetap diam, tidak melakukan apa pun selain menunggu.

17.45.

Ada sesuatu dalam cara ia menunggu, bukan sekadar kebiasaan, bukan pula sekadar harapan kosong. Ada keyakinan kecil yang tetap bertahan, meski tidak pernah benar-benar mendapatkan jawaban.

Seorang pria tua duduk beberapa kursi darinya, lalu pergi saat bus yang ditunggunya datang. Seorang ibu dan anak kecil sempat berdiri di dekat tiang halte, berbicara pelan sebelum akhirnya naik kendaraan yang berhenti sebentar.

Orang-orang terus berganti.

Namun Airel tetap di sana.

“Airel?”

Ia menoleh saat mendengar suaranya dipanggil. Kalista berdiri beberapa langkah darinya, tampak sedikit kelelahan.

“Kamu di sini lagi,” katanya sambil berjalan mendekat. “Aku sudah nebak sih.”

Airel tersenyum kecil. “Kamu belum pulang?”

“Tadi balik ke kampus bentar, terus kepikiran kamu pasti di sini.” Kalista duduk di sampingnya, menatap ke arah jalan. “Kamu nunggu siapa sih?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar dengan jelas.

Airel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan, membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya berbicara.

“Enggak ada,” katanya pelan.

Kalista mengangkat alis. “Kalau enggak ada, kenapa kamu ke sini terus?”

Airel terdiam lagi, seperti sedang menimbang apakah ia perlu menjelaskan atau tidak.

“Karena dia bilang akan datang ke sini,” ucapnya akhirnya.

Kalista sedikit terkejut. “Dia?”

Airel mengangguk.

“Siapa?”

Pertanyaan itu menggantung, tidak langsung mendapat jawaban.

Airel menunduk, matanya kembali ke jam.

17.48.

“Orang yang pernah janji,” katanya.

Kalista menatapnya lama, mencoba memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ketahui. “Sudah berapa lama?”

Airel tidak langsung menjawab.

Angin kembali berembus, kali ini terasa lebih dingin.

“Tujuh tahun.”

Kalista terdiam, tidak langsung memberi tanggapan.

“Tapi kamu masih nunggu?” tanyanya pelan.

Airel tersenyum tipis, matanya tetap ke depan.

“Dia belum datang.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi lebih berat.

Kalista menghela napas. “Kalau dia enggak pernah datang?”

Airel tidak menjawab.

Ia hanya menatap jalan yang mulai sepi, seperti pertanyaan itu tidak perlu dijawab.

Jam kembali bergerak.

17.50.

Airel berdiri perlahan, mengambil tasnya. Gerakannya tenang, seperti seseorang yang sudah terbiasa mengakhiri sesuatu tanpa hasil.

“Kamu mau pulang?” tanya Kalista.

Airel mengangguk. “Seperti biasa.”

Kalista ikut berdiri, masih menatapnya. “Kalau kamu capek, bilang ke aku.”

Airel tersenyum kecil. “Iya.”

Mereka berjalan menjauh dari halte, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Suasana menjadi lebih sepi, hanya tersisa suara kendaraan yang sesekali lewat.

Beberapa langkah kemudian, Airel menoleh ke belakang.

Tatapannya bertahan lebih lama dari biasanya, seolah berharap ada sesuatu yang berubah.

Namun halte itu tetap sama.

Kosong.

Ia mengalihkan pandangan, lalu melanjutkan langkahnya tanpa berkata apa-apa.

Besok, ia akan kembali lagi.

Episodes
1 BAB 1 - Langit Yang Sepi
2 BAB 2 - Rutinitas Yang Hampa
3 BAB 3 - Janji Yang Tak Hilang
4 BAB 4 - Hari Hujan Yang Sama
5 BAB 5 - Orang Yang Tidak Mengerti
6 BAB 6 - Kemunculan Rave
7 BAB 7 - Sesuatu Yang Aneh
8 BAB 8 - Waktu Yang Hampir Habis
9 BAB 9 - Hampir Bertemu
10 BAB 10 - Orang Yang Sama
11 BAB 11 - Tatapan Tertinggal
12 BAB 12 - Orang Yang Tidak Asing
13 BAB 13 - Nama Baru
14 BAB 14 - Pertemuan Pertama
15 BAB 15 - Hal Yang Sama
16 BAB 16 - Rave Mulai Curiga
17 BAB 17 - Jarak Yang Aneh
18 BAB 18 - Kilas Balik Yang Rusak
19 BAB 19 - Tempat Yang Sama
20 BAB 20 - Bukan Kebetulan
21 BAB 21 - Percakapan Panjang
22 BAB 22 - Kebiasaan Baru
23 BAB 23 - Hujan Dan Satu Payung
24 BAB 24 - Hal Yang Tidak Disadari
25 BAB 25 - Tatapan Yang Sulit Dijelaskan
26 BAB 26 - Luka Yang Dibagi
27 BAB 27 - Nama Di Bibirnya
28 BAB 28 - Cemburu Yang Aneh
29 BAB 29 - Pengakuan Pada Diri Sendiri
30 BAB 30 - Perasaan Nyata
31 BAB 31 - Setelah Pengakuan
32 BAB 32 - Seseorang Dari Masa Lalu Zev
33 BAB 33 - Nama Yang Tak Pernah Disebut
34 BAB 34 - Rave Tidak Tenang
35 BAB 35 - Jarak Mendadak
36 BAB 36 - Kenangan Yang Tersentak
37 BAB 37 - Tempat Yang Disembunyikan
38 BAB 38 - Pertengkaran Pertama
39 BAB 39 - Foto Lama
40 BAB 40 - Peringatan
41 BAB 41 - Kata Yang Tertahan
42 BAB 42 - Kembali Seperti Semula
43 BAB 43 - Hari Yang Tenang
44 BAB 44 - Sisi Lembut Zev
45 BAB 45 - Rahasia Kecil Airel
46 BAB 46 - Simbol Lama
47 BAB 47 - Sentuhan Pertama
48 BAB 48 - Memilih Untuk Diam
49 BAB 49 - Hampir Mengaku
50 BAB 50 - Salah Waktu
51 BAB 51 - Ketakutan Yang Terukir
52 BAB 52 - Nama Di Dokumen Lama
53 BAB 53 - Zev Yang Berubah
54 BAB 54 - Foto Yang Sobek
55 BAB 55 - Pertanyaan Yang Dihindari
56 BAB 56 - Tempat Yang Memanggil
57 BAB 57 - Liontin Yang Sama
58 BAB 58 - Rave Makin Curiga
59 BAB 59 - Nama Yang Terucap
60 BAB 60 - Anak Yang Hilang
61 BAB 61 - Nama Yang Tidak Asing
62 BAB 62 - Rave Menahan Ucapan
63 BAB 63 - Zev Dan Mimpi Buruk
64 BAB 64 - Rumah Lama
65 BAB 65 - Potongan Kenangan
66 BAB 66 - Zev Menjauh
67 BAB 67 - Pertengkaran Yang Jujur
68 BAB 68 - Tes Yang Disembunyikan
69 BAB 69 - Hasil Yang Tak Ingin Dilihat
70 BAB 70 - Sebelum Semuanya Hancur
71 BAB 71 - Kata Yang Terlambat
72 BAB 72 - Pengakuan
73 BAB 73 - Rave Datang Terlambat
74 BAB 74 - Nama Asli
75 BAB 75 - Anak Yang Hilang Itu
76 BAB 76 - Saudara Kandung
77 BAB 77 - Jijik Pada Diri Sendiri
78 BAB 78 - Penantian Yang Salah
79 BAB 79 - Perpisahan
80 BAB 80 - Malam Terakhir
81 BAB 81 - Kota Yang Asing
82 BAB 82 - Nama Yang Tak Bisa Disebut
83 BAB 83 - Lelaki Tanpa Identitas
84 BAB 84 - Penyesalan Rave
85 BAB 85 - Rumah Yang Tak Hangat
86 BAB 86 - Surat Yang Tak Dikirim
87 BAB 87 - Pertemuan Singkat
88 BAB 88 - Belajar Menyebut Keluarga
Episodes

Updated 88 Episodes

1
BAB 1 - Langit Yang Sepi
2
BAB 2 - Rutinitas Yang Hampa
3
BAB 3 - Janji Yang Tak Hilang
4
BAB 4 - Hari Hujan Yang Sama
5
BAB 5 - Orang Yang Tidak Mengerti
6
BAB 6 - Kemunculan Rave
7
BAB 7 - Sesuatu Yang Aneh
8
BAB 8 - Waktu Yang Hampir Habis
9
BAB 9 - Hampir Bertemu
10
BAB 10 - Orang Yang Sama
11
BAB 11 - Tatapan Tertinggal
12
BAB 12 - Orang Yang Tidak Asing
13
BAB 13 - Nama Baru
14
BAB 14 - Pertemuan Pertama
15
BAB 15 - Hal Yang Sama
16
BAB 16 - Rave Mulai Curiga
17
BAB 17 - Jarak Yang Aneh
18
BAB 18 - Kilas Balik Yang Rusak
19
BAB 19 - Tempat Yang Sama
20
BAB 20 - Bukan Kebetulan
21
BAB 21 - Percakapan Panjang
22
BAB 22 - Kebiasaan Baru
23
BAB 23 - Hujan Dan Satu Payung
24
BAB 24 - Hal Yang Tidak Disadari
25
BAB 25 - Tatapan Yang Sulit Dijelaskan
26
BAB 26 - Luka Yang Dibagi
27
BAB 27 - Nama Di Bibirnya
28
BAB 28 - Cemburu Yang Aneh
29
BAB 29 - Pengakuan Pada Diri Sendiri
30
BAB 30 - Perasaan Nyata
31
BAB 31 - Setelah Pengakuan
32
BAB 32 - Seseorang Dari Masa Lalu Zev
33
BAB 33 - Nama Yang Tak Pernah Disebut
34
BAB 34 - Rave Tidak Tenang
35
BAB 35 - Jarak Mendadak
36
BAB 36 - Kenangan Yang Tersentak
37
BAB 37 - Tempat Yang Disembunyikan
38
BAB 38 - Pertengkaran Pertama
39
BAB 39 - Foto Lama
40
BAB 40 - Peringatan
41
BAB 41 - Kata Yang Tertahan
42
BAB 42 - Kembali Seperti Semula
43
BAB 43 - Hari Yang Tenang
44
BAB 44 - Sisi Lembut Zev
45
BAB 45 - Rahasia Kecil Airel
46
BAB 46 - Simbol Lama
47
BAB 47 - Sentuhan Pertama
48
BAB 48 - Memilih Untuk Diam
49
BAB 49 - Hampir Mengaku
50
BAB 50 - Salah Waktu
51
BAB 51 - Ketakutan Yang Terukir
52
BAB 52 - Nama Di Dokumen Lama
53
BAB 53 - Zev Yang Berubah
54
BAB 54 - Foto Yang Sobek
55
BAB 55 - Pertanyaan Yang Dihindari
56
BAB 56 - Tempat Yang Memanggil
57
BAB 57 - Liontin Yang Sama
58
BAB 58 - Rave Makin Curiga
59
BAB 59 - Nama Yang Terucap
60
BAB 60 - Anak Yang Hilang
61
BAB 61 - Nama Yang Tidak Asing
62
BAB 62 - Rave Menahan Ucapan
63
BAB 63 - Zev Dan Mimpi Buruk
64
BAB 64 - Rumah Lama
65
BAB 65 - Potongan Kenangan
66
BAB 66 - Zev Menjauh
67
BAB 67 - Pertengkaran Yang Jujur
68
BAB 68 - Tes Yang Disembunyikan
69
BAB 69 - Hasil Yang Tak Ingin Dilihat
70
BAB 70 - Sebelum Semuanya Hancur
71
BAB 71 - Kata Yang Terlambat
72
BAB 72 - Pengakuan
73
BAB 73 - Rave Datang Terlambat
74
BAB 74 - Nama Asli
75
BAB 75 - Anak Yang Hilang Itu
76
BAB 76 - Saudara Kandung
77
BAB 77 - Jijik Pada Diri Sendiri
78
BAB 78 - Penantian Yang Salah
79
BAB 79 - Perpisahan
80
BAB 80 - Malam Terakhir
81
BAB 81 - Kota Yang Asing
82
BAB 82 - Nama Yang Tak Bisa Disebut
83
BAB 83 - Lelaki Tanpa Identitas
84
BAB 84 - Penyesalan Rave
85
BAB 85 - Rumah Yang Tak Hangat
86
BAB 86 - Surat Yang Tak Dikirim
87
BAB 87 - Pertemuan Singkat
88
BAB 88 - Belajar Menyebut Keluarga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!