Pagi itu rumah terlihat sama seperti hari-hari lain yang pernah Airel jalani sejak kecil. Ibunya menata piring di meja makan dengan gerakan cepat yang sudah seperti kebiasaan turun-temurun, sementara ayahnya membaca berita dari ponsel sambil sesekali menyeruput kopi yang masih mengepul. Televisi menyala pelan menampilkan acara pagi dengan pembawa acara yang terlalu bersemangat, tetapi tak satu pun benar-benar memperhatikannya.
Semua tampak biasa. Justru karena terlalu biasa, dada Airel terasa makin sesak.
Sejak menemukan foto lama yang sobek semalam, pikirannya tak berhenti bergerak ke mana-mana. Potongan lengan kecil di sisi gambar itu terus muncul di kepalanya, begitu juga jari mungil yang hampir menyentuh tangannya. Ekspresi ibunya saat ditanya semalam juga tidak bisa ia lupakan, sama seperti suara Zev di telepon yang terdengar rendah dan lelah.
Ada sesuatu yang salah sama hidup aku.
Kalimat itu menempel di kepala seperti suara yang tak mau pergi. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas bunyinya.
Airel turun tangga dengan langkah pelan lalu duduk di meja makan. Ibunya langsung menyendok nasi ke piringnya, menambahkan telur dadar dan tumis kacang panjang seperti biasanya. Semua dilakukan dengan perhatian yang hangat, tetapi hari ini perhatian itu terasa seperti tirai yang menutup sesuatu.
“Makan dulu. Jangan main HP pagi-pagi.”
“Aku enggak pegang HP, Bu.”
“Bagus.”
Ayahnya terkekeh kecil tanpa mengangkat kepala dari layar. Airel biasanya akan ikut tersenyum melihat hal kecil seperti itu, tetapi pagi ini bibirnya terasa berat.
Ia menatap ayah dan ibunya bergantian. Dua orang yang paling mengenalnya, dua orang yang seharusnya menjadi tempat paling mudah mencari jawaban. Anehnya, justru mereka yang sekarang terasa paling jauh.
“Bu, Yah... aku mau tanya sesuatu.”
Ibunya masih merapikan lauk di tengah meja.
“Tanya aja.”
“Soal masa kecilku.”
Gerakan sendok berhenti sepersekian detik. Ayahnya menurunkan ponsel perlahan lalu menatapnya dengan pandangan hati-hati.
…
Penantian 7 Tahun
BAB 55 - Pertanyaan Yang Dihindari
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 88 Episodes
Comments