Malam turun perlahan di atas rumah keluarga Airel, tetapi tak ada bagian rumah itu yang benar-benar terasa tenang. Lampu ruang tengah, lorong, dapur, sampai teras depan masih menyala sejak pagi dan tak seorang pun berniat mematikannya. Cahaya kuning yang memenuhi rumah tua itu justru membuat suasana terasa makin kosong, seolah semua orang sedang berusaha menolak gelap yang sudah telanjur masuk ke hidup mereka.
Di lantai dua, Airel duduk di lantai kamarnya sambil bersandar pada sisi ranjang. Lututnya ditekuk rapat ke dada, kedua tangan memeluk kaki sendiri seperti itu satu-satunya cara agar tubuhnya tidak berantakan. Ia masih mengenakan pakaian yang sama sejak pagi. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan matanya bengkak karena tangis yang datang berkali-kali tanpa izin.
Ponsel tergeletak beberapa jengkal di depannya.
Layar sudah padam, tetapi nama Zev masih tertinggal di kepala jauh lebih jelas daripada apa pun. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan. Tidak ada kata yang bisa memperbaiki kenyataan pagi tadi.
Airel menatap benda itu cukup lama, lalu memalingkan wajah. Namun setiap kali ia mencoba menghindar, kenangan justru datang satu per satu tanpa diminta.
Ia ingat bagaimana Zev pernah berdiri diam di bawah hujan sambil memayungi dirinya lebih dulu. Ia ingat cara laki-laki itu menatap saat Airel sedang bicara panjang lebar tentang hal sepele, seolah omelan kecil pun pantas didengar sungguh-sungguh. Ia ingat nada suara rendah yang selalu berubah lembut ketika memanggil namanya.
Semua itu dulu membuat hatinya tenang.
Sekarang semua itu seperti serpihan kaca yang menempel di dada.
“Aku benci ini...” bisiknya pelan.
Suara itu nyaris hilang di dalam kamar, tetapi cukup untuk membuat matanya kembali panas. Ia tidak tahu harus membenci siapa. Diri sendiri karena jatuh terlalu dalam. Zev karena datang membawa rasa yang tak semestinya. Keluarganya karena mengubur rahasia bertahun-tahun. Atau nasib yang terasa terlalu kejam untuk dijelaskan.
Ketukan pelan terdengar di pintu…
Penantian 7 Tahun
BAB 77 - Jijik Pada Diri Sendiri
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 88 Episodes
Comments