BAB 4 - Hari Hujan Yang Sama

Langit berubah lebih cepat dari biasanya hari itu, seolah waktu mempercepat langkahnya tanpa memberi tanda yang jelas. Sejak siang, awan sudah menggantung berat di atas kota, menutup cahaya matahari yang seharusnya masih terasa hangat di kulit. Udara menjadi lebih lembap, dan angin yang berembus membawa aroma khas yang hanya muncul sebelum hujan turun, sesuatu yang terlalu familiar bagi mereka yang sering memperhatikan hal-hal kecil.

Airel Virellia berdiri di depan gedung kampus, tidak terburu-buru seperti orang-orang di sekitarnya. Matanya terangkat sedikit, mengikuti pergerakan awan yang semakin gelap, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak tertulis di sana. Di sekelilingnya, langkah kaki mulai dipercepat, beberapa orang membuka payung sebelum hujan benar-benar jatuh, sementara yang lain sibuk mengecek ponsel, mungkin berharap bisa pulang lebih cepat.

Airel tidak bergerak.

Tangannya tetap di samping tubuh, tidak mencoba mencari perlindungan, tidak pula menunjukkan tanda ingin pergi. Ia hanya berdiri, seolah waktu di sekitarnya berjalan lebih cepat dibandingkan yang ia rasakan sendiri.

“Kamu enggak bawa payung lagi, ya?”

Suara Kalista terdengar dari samping, cukup dekat untuk membuat Airel menoleh. Gadis itu sudah siap dengan payung di tangannya, tasnya dipindahkan ke depan seolah bersiap menghadapi hujan yang tidak lama lagi turun.

Airel menggeleng pelan. “Enggak.”

Kalista menghela napas, ekspresinya menunjukkan kelelahan yang sudah terlalu sering muncul. “Serius, Airel. Kamu tuh ya, tiap hujan selalu begini. Kayak sengaja.”

Airel tersenyum tipis, tidak mencoba membantah.

Ia tidak menjelaskan.

Karena ia sendiri tidak yakin bagaimana harus menjelaskannya.

Hujan bukan hanya soal air yang jatuh dari langit, bukan hanya soal basah dan dingin. Ada sesuatu yang selalu ikut turun bersama rintik-rintik itu, sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi meski hari berganti.

“Kalau kamu mau, aku bisa anterin sampai depan,” kata Kalista lagi, mengangkat sedikit payungnya sebagai tawaran.

Airel menggeleng sekali lagi. “Kamu duluan saja.”

Kalista menatapnya beberapa detik lebih lama, seperti ingin memastikan bahwa keputusan itu tidak akan ia sesali. Namun pada akhirnya ia hanya menghela napas pelan, menyadari bahwa memaksa Airel tidak akan mengubah apa pun.

“Kamu pasti ke sana lagi, ya?” tanyanya.

Airel tidak menjawab langsung, tetapi cara ia mengalihkan pandangan sudah cukup jelas.

Kalista mengangguk kecil, seperti mengerti meski tidak sepenuhnya memahami. “Aku duluan.”

Ia berbalik dan berjalan menjauh, payungnya terbuka tepat saat titik-titik hujan pertama mulai jatuh.

Awalnya pelan, hanya beberapa tetes yang nyaris tidak terasa.

Namun tidak butuh waktu lama hingga suara hujan mulai terdengar jelas, rintik yang semakin rapat berubah menjadi aliran yang konsisten. Dalam hitungan menit, kota itu tertutup oleh suara air yang jatuh tanpa henti, menciptakan ritme yang menenangkan sekaligus menyisakan kesunyian.

Airel masih berdiri di tempatnya.

Air mulai membasahi rambutnya, perlahan turun ke wajahnya, melewati pipi hingga jatuh ke ujung dagunya. Pakaian yang ia kenakan mulai menyerap air, tetapi ia tidak bergerak untuk menghindarinya.

Matanya tertutup sebentar.

Dan seperti yang selalu terjadi, sesuatu datang bersamaan dengan hujan itu.

Bukan ingatan yang utuh.

Namun cukup untuk menariknya menjauh dari kenyataan.

Langkah kecil di atas genangan air terdengar samar, bercampur dengan suara tawa yang ringan. Seseorang berlari di depannya, langkahnya cepat, lalu berhenti dan berbalik dengan gerakan yang lincah.

“Ayo.”

Suara itu terdengar ringan, seperti ajakan yang tidak perlu dipikirkan.

Airel membuka matanya perlahan.

Dunia di depannya terasa sedikit kabur, seperti lapisan tipis yang menghalangi pandangannya. Hujan masih turun, tetapi ada bagian dari dirinya yang seolah berada di tempat lain.

Ia menarik napas dalam, lalu mulai berjalan.

Langkahnya tidak ragu.

Tubuhnya sudah hafal arah itu.

Jalan yang sama, dengan trotoar yang sedikit retak di beberapa bagian. Belokan yang sama, dengan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Semua terasa akrab, seperti sesuatu yang sudah diulang terlalu sering.

Dan akhirnya, tempat itu kembali terlihat.

Sebuah taman kecil di ujung jalan, dengan jembatan kayu yang melintang di atas aliran air yang tidak terlalu besar. Tempat itu jarang ramai, bahkan di hari biasa, apalagi saat hujan seperti ini.

Airel melangkah masuk tanpa berhenti.

Sepatu yang ia pakai mulai basah, air meresap perlahan hingga terasa dingin. Namun ia tidak memperhatikan itu, matanya sudah tertuju pada satu titik.

Jembatan kayu itu.

Langkahnya melambat saat mendekat, seolah ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin terlalu cepat sampai. Hujan jatuh lebih deras sekarang, mengenai permukaan kayu dengan suara yang teratur, sementara air di bawahnya mengalir lebih cepat dari biasanya.

Airel berdiri di tengah jembatan.

Tangannya terangkat perlahan, menggenggam pagar kayu yang terasa sedikit kasar. Permukaannya sudah mulai lapuk, tetapi masih cukup kuat untuk dijadikan pegangan.

Matanya menatap lurus ke depan.

Dan ingatan itu kembali.

Lebih jelas.

Namun tetap tidak sepenuhnya utuh.

Seorang gadis kecil berdiri di tempat yang sama, menatap ke bawah dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Hujan membasahi rambutnya, membuatnya terlihat sedikit berantakan, tetapi ia tidak bergerak untuk menghindarinya.

Di sampingnya, anak laki-laki itu berdiri.

Ia memegang sesuatu di tangannya.

Payung kecil, mungkin.

Namun tidak benar-benar digunakan dengan benar.

Sebagian tubuhnya tetap terkena hujan.

“Kalau hujan, kamu tetap ke sini?” tanya suara kecil itu.

Anak laki-laki itu tidak langsung menjawab, matanya tertuju pada aliran air di bawah mereka. Seolah ia lebih fokus pada sesuatu yang bergerak daripada pada pertanyaan yang diberikan.

“Kadang.”

Jawaban itu singkat, tanpa penjelasan tambahan.

Gadis kecil itu mengernyit. “Kenapa?”

Anak laki-laki itu mengangkat bahunya sedikit, seperti tidak terlalu memikirkan jawabannya.

“Biar ingat.”

Kata-kata itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat gadis kecil itu diam. Ia tidak langsung bertanya lagi, seolah mencoba memahami sesuatu yang belum sepenuhnya ia mengerti.

Airel menelan pelan.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Setiap detail kecil dari potongan itu terasa nyata, meski wajah anak laki-laki itu tetap tidak jelas. Setiap kali ia mencoba fokus, bayangan itu justru mengabur, seolah menolak untuk dikenali.

Hujan semakin deras.

Air menetes dari ujung rambutnya, jatuh ke tangannya yang masih menggenggam pagar.

Ia memejamkan mata.

Dan potongan berikutnya datang.

Langkah kaki di atas jembatan.

Lebih cepat.

Lebih tergesa.

Gadis kecil itu berdiri sendirian kali ini.

Ia melihat ke kiri dan kanan, seolah mencari sesuatu yang tidak terlihat. Hujan turun dengan intensitas yang sama, tetapi suasana terasa berbeda, lebih sunyi dan lebih dingin.

“Aku di sini.”

Suaranya pelan, hampir tidak terdengar.

Namun ia tetap berdiri.

Menunggu.

Waktu berjalan tanpa tanda yang jelas.

Tidak ada yang datang.

Airel membuka matanya dengan cepat.

Napasnya sedikit tidak teratur, dadanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Tangannya mencengkeram pagar lebih kuat, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri di tempat.

Perasaan yang muncul kali ini tidak sama.

Bukan hanya kenangan.

Ada sesuatu yang lain.

Seperti bagian dari dirinya yang tertinggal di masa itu, masih berada di tempat yang sama, masih menunggu dengan keyakinan yang tidak berubah.

Hujan membasahi wajahnya sepenuhnya sekarang.

Ia tidak tahu mana yang air hujan, mana yang bukan.

Namun ia tidak berusaha menghapusnya.

Ia hanya berdiri di sana.

“Kenapa selalu hujan…” gumamnya pelan.

Pertanyaan itu keluar tanpa ia rencanakan, tetapi terasa seperti sesuatu yang sudah lama ingin ia ucapkan. Jawabannya tidak datang dalam bentuk kata, melainkan dalam perasaan yang sudah ia kenal sejak lama.

Hujan selalu membawa kembali sesuatu.

Sesuatu yang tidak pernah ia temukan di hari biasa.

Ia menunduk sedikit, matanya tertuju pada air yang mengalir di bawah jembatan. Pantulan wajahnya terlihat samar, terdistorsi oleh arus yang terus bergerak, membuat bentuknya tidak pernah benar-benar jelas.

Dan di dalam bayangan itu, sejenak ia merasa melihat sesuatu yang berbeda.

Bukan dirinya sekarang.

Melainkan versi yang lebih kecil.

Lebih sederhana.

Masih memegang harapan tanpa ragu.

Airel menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengangkat kepalanya kembali, menatap ke arah jalan di seberang jembatan yang kosong tanpa satu pun orang yang berdiri.

Ia melangkah mundur satu langkah.

Tangannya perlahan melepaskan pagar.

“Aku masih ke sini,” bisiknya pelan.

Suaranya tenggelam oleh hujan yang tidak berhenti.

Namun cukup untuk dirinya sendiri.

Ia berbalik, langkahnya mulai menjauh dari jembatan. Sepatunya sudah basah sepenuhnya, pakaiannya terasa lebih berat, tetapi ia tidak memperlambat langkahnya.

Beberapa langkah kemudian, ia berhenti sejenak.

Lalu menoleh kembali.

Tatapannya bertahan lebih lama, seolah berharap sesuatu akan berubah jika ia menunggu sedikit lagi.

Namun yang ada hanya hujan.

Airel akhirnya melangkah pergi.

Jalanan kembali ia lewati tanpa banyak pikiran, hanya suara hujan yang menemani langkahnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya di permukaan aspal yang basah.

Namun satu hal tetap tinggal.

Hujan bukan sekadar cuaca baginya.

Hujan adalah pengingat.

Bahwa ada janji yang pernah diucapkan.

Bahwa ada seseorang yang pernah berdiri di sampingnya.

Dan bahwa di suatu tempat, di waktu yang tidak ia ketahui, seseorang itu seharusnya kembali.

Airel mengangkat wajahnya sedikit, membiarkan hujan jatuh tanpa halangan. Matanya terpejam sesaat sebelum akhirnya terbuka kembali, menatap ke depan dengan ekspresi yang lebih tenang.

“Aku masih nunggu,” ucapnya pelan.

Langkahnya terus berjalan.

Dan hujan tidak berhenti.

Episodes
1 BAB 1 - Langit Yang Sepi
2 BAB 2 - Rutinitas Yang Hampa
3 BAB 3 - Janji Yang Tak Hilang
4 BAB 4 - Hari Hujan Yang Sama
5 BAB 5 - Orang Yang Tidak Mengerti
6 BAB 6 - Kemunculan Rave
7 BAB 7 - Sesuatu Yang Aneh
8 BAB 8 - Waktu Yang Hampir Habis
9 BAB 9 - Hampir Bertemu
10 BAB 10 - Orang Yang Sama
11 BAB 11 - Tatapan Tertinggal
12 BAB 12 - Orang Yang Tidak Asing
13 BAB 13 - Nama Baru
14 BAB 14 - Pertemuan Pertama
15 BAB 15 - Hal Yang Sama
16 BAB 16 - Rave Mulai Curiga
17 BAB 17 - Jarak Yang Aneh
18 BAB 18 - Kilas Balik Yang Rusak
19 BAB 19 - Tempat Yang Sama
20 BAB 20 - Bukan Kebetulan
21 BAB 21 - Percakapan Panjang
22 BAB 22 - Kebiasaan Baru
23 BAB 23 - Hujan Dan Satu Payung
24 BAB 24 - Hal Yang Tidak Disadari
25 BAB 25 - Tatapan Yang Sulit Dijelaskan
26 BAB 26 - Luka Yang Dibagi
27 BAB 27 - Nama Di Bibirnya
28 BAB 28 - Cemburu Yang Aneh
29 BAB 29 - Pengakuan Pada Diri Sendiri
30 BAB 30 - Perasaan Nyata
31 BAB 31 - Setelah Pengakuan
32 BAB 32 - Seseorang Dari Masa Lalu Zev
33 BAB 33 - Nama Yang Tak Pernah Disebut
34 BAB 34 - Rave Tidak Tenang
35 BAB 35 - Jarak Mendadak
36 BAB 36 - Kenangan Yang Tersentak
37 BAB 37 - Tempat Yang Disembunyikan
38 BAB 38 - Pertengkaran Pertama
39 BAB 39 - Foto Lama
40 BAB 40 - Peringatan
41 BAB 41 - Kata Yang Tertahan
42 BAB 42 - Kembali Seperti Semula
43 BAB 43 - Hari Yang Tenang
44 BAB 44 - Sisi Lembut Zev
45 BAB 45 - Rahasia Kecil Airel
46 BAB 46 - Simbol Lama
47 BAB 47 - Sentuhan Pertama
48 BAB 48 - Memilih Untuk Diam
49 BAB 49 - Hampir Mengaku
50 BAB 50 - Salah Waktu
51 BAB 51 - Ketakutan Yang Terukir
52 BAB 52 - Nama Di Dokumen Lama
53 BAB 53 - Zev Yang Berubah
54 BAB 54 - Foto Yang Sobek
55 BAB 55 - Pertanyaan Yang Dihindari
56 BAB 56 - Tempat Yang Memanggil
57 BAB 57 - Liontin Yang Sama
58 BAB 58 - Rave Makin Curiga
59 BAB 59 - Nama Yang Terucap
60 BAB 60 - Anak Yang Hilang
61 BAB 61 - Nama Yang Tidak Asing
62 BAB 62 - Rave Menahan Ucapan
63 BAB 63 - Zev Dan Mimpi Buruk
64 BAB 64 - Rumah Lama
65 BAB 65 - Potongan Kenangan
66 BAB 66 - Zev Menjauh
67 BAB 67 - Pertengkaran Yang Jujur
68 BAB 68 - Tes Yang Disembunyikan
69 BAB 69 - Hasil Yang Tak Ingin Dilihat
70 BAB 70 - Sebelum Semuanya Hancur
71 BAB 71 - Kata Yang Terlambat
72 BAB 72 - Pengakuan
73 BAB 73 - Rave Datang Terlambat
74 BAB 74 - Nama Asli
75 BAB 75 - Anak Yang Hilang Itu
76 BAB 76 - Saudara Kandung
77 BAB 77 - Jijik Pada Diri Sendiri
78 BAB 78 - Penantian Yang Salah
79 BAB 79 - Perpisahan
80 BAB 80 - Malam Terakhir
81 BAB 81 - Kota Yang Asing
82 BAB 82 - Nama Yang Tak Bisa Disebut
83 BAB 83 - Lelaki Tanpa Identitas
84 BAB 84 - Penyesalan Rave
85 BAB 85 - Rumah Yang Tak Hangat
86 BAB 86 - Surat Yang Tak Dikirim
87 BAB 87 - Pertemuan Singkat
88 BAB 88 - Belajar Menyebut Keluarga
Episodes

Updated 88 Episodes

1
BAB 1 - Langit Yang Sepi
2
BAB 2 - Rutinitas Yang Hampa
3
BAB 3 - Janji Yang Tak Hilang
4
BAB 4 - Hari Hujan Yang Sama
5
BAB 5 - Orang Yang Tidak Mengerti
6
BAB 6 - Kemunculan Rave
7
BAB 7 - Sesuatu Yang Aneh
8
BAB 8 - Waktu Yang Hampir Habis
9
BAB 9 - Hampir Bertemu
10
BAB 10 - Orang Yang Sama
11
BAB 11 - Tatapan Tertinggal
12
BAB 12 - Orang Yang Tidak Asing
13
BAB 13 - Nama Baru
14
BAB 14 - Pertemuan Pertama
15
BAB 15 - Hal Yang Sama
16
BAB 16 - Rave Mulai Curiga
17
BAB 17 - Jarak Yang Aneh
18
BAB 18 - Kilas Balik Yang Rusak
19
BAB 19 - Tempat Yang Sama
20
BAB 20 - Bukan Kebetulan
21
BAB 21 - Percakapan Panjang
22
BAB 22 - Kebiasaan Baru
23
BAB 23 - Hujan Dan Satu Payung
24
BAB 24 - Hal Yang Tidak Disadari
25
BAB 25 - Tatapan Yang Sulit Dijelaskan
26
BAB 26 - Luka Yang Dibagi
27
BAB 27 - Nama Di Bibirnya
28
BAB 28 - Cemburu Yang Aneh
29
BAB 29 - Pengakuan Pada Diri Sendiri
30
BAB 30 - Perasaan Nyata
31
BAB 31 - Setelah Pengakuan
32
BAB 32 - Seseorang Dari Masa Lalu Zev
33
BAB 33 - Nama Yang Tak Pernah Disebut
34
BAB 34 - Rave Tidak Tenang
35
BAB 35 - Jarak Mendadak
36
BAB 36 - Kenangan Yang Tersentak
37
BAB 37 - Tempat Yang Disembunyikan
38
BAB 38 - Pertengkaran Pertama
39
BAB 39 - Foto Lama
40
BAB 40 - Peringatan
41
BAB 41 - Kata Yang Tertahan
42
BAB 42 - Kembali Seperti Semula
43
BAB 43 - Hari Yang Tenang
44
BAB 44 - Sisi Lembut Zev
45
BAB 45 - Rahasia Kecil Airel
46
BAB 46 - Simbol Lama
47
BAB 47 - Sentuhan Pertama
48
BAB 48 - Memilih Untuk Diam
49
BAB 49 - Hampir Mengaku
50
BAB 50 - Salah Waktu
51
BAB 51 - Ketakutan Yang Terukir
52
BAB 52 - Nama Di Dokumen Lama
53
BAB 53 - Zev Yang Berubah
54
BAB 54 - Foto Yang Sobek
55
BAB 55 - Pertanyaan Yang Dihindari
56
BAB 56 - Tempat Yang Memanggil
57
BAB 57 - Liontin Yang Sama
58
BAB 58 - Rave Makin Curiga
59
BAB 59 - Nama Yang Terucap
60
BAB 60 - Anak Yang Hilang
61
BAB 61 - Nama Yang Tidak Asing
62
BAB 62 - Rave Menahan Ucapan
63
BAB 63 - Zev Dan Mimpi Buruk
64
BAB 64 - Rumah Lama
65
BAB 65 - Potongan Kenangan
66
BAB 66 - Zev Menjauh
67
BAB 67 - Pertengkaran Yang Jujur
68
BAB 68 - Tes Yang Disembunyikan
69
BAB 69 - Hasil Yang Tak Ingin Dilihat
70
BAB 70 - Sebelum Semuanya Hancur
71
BAB 71 - Kata Yang Terlambat
72
BAB 72 - Pengakuan
73
BAB 73 - Rave Datang Terlambat
74
BAB 74 - Nama Asli
75
BAB 75 - Anak Yang Hilang Itu
76
BAB 76 - Saudara Kandung
77
BAB 77 - Jijik Pada Diri Sendiri
78
BAB 78 - Penantian Yang Salah
79
BAB 79 - Perpisahan
80
BAB 80 - Malam Terakhir
81
BAB 81 - Kota Yang Asing
82
BAB 82 - Nama Yang Tak Bisa Disebut
83
BAB 83 - Lelaki Tanpa Identitas
84
BAB 84 - Penyesalan Rave
85
BAB 85 - Rumah Yang Tak Hangat
86
BAB 86 - Surat Yang Tak Dikirim
87
BAB 87 - Pertemuan Singkat
88
BAB 88 - Belajar Menyebut Keluarga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!