Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

BAB 1 - Langit Yang Sepi

Langit malam menggantung rendah, seolah ingin menyentuh ujung kota yang dipenuhi lampu-lampu redup. Angin berembus pelan, membawa sisa panas siang yang belum sepenuhnya hilang, menyelusup di antara bangunan tua yang berdiri diam tanpa suara. Dari atas rooftop sebuah gedung yang jarang dikunjungi orang, seorang gadis berdiri sendirian, memandangi jalanan yang mulai lengang dengan tatapan yang sulit ditebak.

Airel Virellia.

Namanya terdengar lembut, hampir seperti sesuatu yang seharusnya dipenuhi kehangatan dan cerita yang menyenangkan. Namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang berbeda, bukan luka yang terbuka, bukan pula kesedihan yang berisik, melainkan ruang kosong yang perlahan tumbuh dan menetap tanpa pernah benar-benar pergi. Ia sudah terbiasa dengan rasa itu, meski tidak pernah benar-benar mengerti sejak kapan semuanya berubah.

Kota di bawahnya terus bergerak seperti biasa, kendaraan berlalu tanpa henti, lampu lalu lintas berganti warna, dan orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing. Semua terlihat hidup dan terarah, seolah tidak ada satu pun yang tertinggal di tempat yang sama. Hanya dirinya yang masih berdiri di titik itu, seakan lupa bagaimana rasanya melangkah tanpa membawa sesuatu dari masa lalu.

Ia menarik napas dalam, membiarkan udara malam memenuhi dadanya sebelum menghembuskannya perlahan. Gerakan itu sederhana, tetapi cukup untuk menenangkan pikirannya yang sering berjalan terlalu jauh tanpa arah yang jelas.

“Sudah tujuh tahun… tapi aku masih di sini.”

Kalimat itu keluar begitu saja, seperti kebiasaan yang tidak pernah benar-benar ia sadari. Ia tidak lagi menghitung berapa kali sudah mengucapkannya, karena pada akhirnya angka tidak mengubah apa pun. Namun setiap kali kata-kata itu terucap, selalu ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya, sesuatu yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan meski dirinya terasa tetap di tempat.

Airel memejamkan mata sejenak, membiarkan angin menyapu rambut panjangnya yang tergerai. Beberapa helai jatuh ke wajahnya, tapi ia tidak mengusirnya. Ia membiarkan semuanya terjadi begitu saja, seperti ia membiarkan hari-harinya berlalu tanpa banyak perlawanan.

Dulu, tempat ini bukan hanya miliknya.

Dulu, ada seseorang yang berdiri di sampingnya, mengisi ruang yang sekarang terasa terlalu sunyi.

Ingatan itu datang tanpa peringatan, seperti potongan waktu yang menolak untuk benar-benar hilang. Suara tawa yang ringan, langkah kaki yang selalu mendahului, dan janji sederhana yang diucapkan dengan keyakinan yang tidak pernah ia ragukan. Semuanya masih tersimpan dengan jelas, seolah tidak pernah tersentuh oleh jarak dan waktu.

“Aku bakal balik ke sini. Tunggu aku, ya.”

Suara itu masih terdengar di benaknya, tidak berubah sedikit pun. Airel membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke sisi kosong di sebelahnya. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya udara dingin yang mengisi ruang yang dulu terasa hangat.

Ia tersenyum kecil, bukan karena bahagia, melainkan karena sudah terbiasa dengan perasaan itu.

“Aku masih nunggu, tahu.”

Ia bergumam pelan, lebih seperti berbicara pada kenangan daripada seseorang yang benar-benar bisa mendengar. Kata-kata itu tidak menuntut jawaban, tidak juga mengharapkan sesuatu, hanya sekadar pengakuan bahwa ia masih bertahan di tempat yang sama.

Langkah kakinya bergeser mendekati tepi rooftop, membuat pandangannya terhadap kota menjadi lebih luas. Dari sana, semuanya terlihat lebih jauh dan sedikit asing, seperti dunia yang terus berubah tanpa pernah menoleh ke belakang. Ia pernah yakin bahwa segalanya akan kembali seperti semula, tetapi keyakinan itu perlahan memudar tanpa benar-benar hilang.

Airel mengangkat tangannya, seolah ingin meraih sesuatu di udara yang kosong. Tidak ada yang bisa ia sentuh, tidak ada yang bisa ia genggam, dan akhirnya ia menurunkannya kembali dengan perlahan. Gerakan itu terasa ringan, tetapi meninggalkan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Waktu tujuh tahun seharusnya cukup untuk mengubah banyak hal. Cukup untuk membuat seseorang berhenti menunggu dan mulai berjalan ke arah yang berbeda. Namun ada bagian dalam dirinya yang menolak untuk bergerak, bukan karena tidak ingin, melainkan karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Suara langkah kaki dari arah tangga darurat tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian yang selama ini terasa akrab. Bunyinya samar, tetapi cukup jelas untuk membuat Airel menoleh dengan alis yang sedikit berkerut. Tempat ini jarang didatangi orang, apalagi di jam seperti ini, sehingga kehadiran orang lain terasa janggal.

Langkah itu semakin mendekat, perlahan namun pasti, hingga akhirnya berhenti tepat di balik pintu besi yang memisahkan tangga dengan rooftop. Pintu itu terbuka dengan bunyi berdecit yang cukup mengganggu, memperlihatkan cahaya dari dalam yang membentuk siluet seseorang.

Airel memicingkan mata, mencoba mengenali sosok itu dari kejauhan.

Seorang pria.

Posturnya tegap, langkahnya tenang, dan cara ia berdiri seolah tempat ini bukan sesuatu yang asing baginya. Rambutnya sedikit berantakan karena angin, sementara wajahnya masih tertutup bayangan, membuat ekspresinya sulit dibaca.

Airel tidak langsung berbicara. Ada sesuatu yang terasa aneh, bukan hanya karena kehadiran orang asing, tetapi karena perasaan yang muncul tanpa alasan yang jelas. Perasaan itu samar, tetapi cukup kuat untuk membuatnya tidak nyaman.

Seperti pernah merasakan hal yang sama sebelumnya.

“Tempat ini ternyata belum berubah.”

Suara pria itu akhirnya terdengar, rendah dan tenang, dengan nada yang terasa terlalu akrab di telinga Airel. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, meski ia tidak ingin mengakui alasan di baliknya.

“Jarang ada yang ke sini,” jawab Airel singkat sambil mengalihkan pandangan. “Kalau kamu cari tempat ramai, ini bukan pilihan yang tepat.”

Pria itu tersenyum tipis, lalu melangkah mendekati pagar pembatas rooftop. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat kehadirannya terasa jelas.

“Justru karena itu aku ke sini.”

Jawaban itu sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang sulit diabaikan. Airel tidak menanggapi, hanya kembali memandang ke arah kota yang terbentang luas di bawah mereka.

“Aku biasa sendiri di sini,” katanya pelan setelah beberapa saat. “Jadi kalau kamu cuma lewat, tidak masalah.”

Pria itu tidak pergi. Ia justru ikut memandang ke arah yang sama, seolah mencoba melihat sesuatu yang selama ini Airel perhatikan.

“Masih sama,” gumamnya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Airel mengernyit sedikit. “Apa yang sama?”

Pria itu menoleh, dan kali ini wajahnya mulai terlihat jelas di bawah pantulan cahaya lampu kota. Tatapan mereka bertemu, dan dalam sekejap, sesuatu di dalam diri Airel terasa bergeser.

Bukan karena ia langsung mengenali siapa pria itu, melainkan karena perasaan yang muncul begitu saja tanpa penjelasan.

Seperti sesuatu yang seharusnya sudah lama hilang, tetapi tiba-tiba muncul kembali.

“Kamu sering ke sini?” tanya pria itu dengan nada santai, seolah tidak terjadi apa-apa.

Airel mengangguk pelan. “Lumayan sering.”

“Sejak kapan?”

Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi Airel tidak langsung menjawab. Ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk memilih kata yang tepat, atau mungkin untuk memastikan bahwa jawabannya tidak membawa sesuatu yang terlalu jauh.

“Sudah lama,” ujarnya akhirnya. “Dari sebelum tempat ini jadi sepi.”

Pria itu mengangguk, seolah memahami tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.

“Menunggu sesuatu?”

Airel tersenyum tipis, matanya tetap mengarah ke kejauhan.

“Mungkin.”

Jawaban itu menggantung di udara, tidak jelas tetapi cukup untuk menyampaikan sesuatu. Pria itu tidak mendesak, hanya berdiri diam, membiarkan waktu berjalan tanpa gangguan.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang tidak sepenuhnya canggung. Airel merasakan ada perubahan kecil dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan mudah.

“Kalau kamu sudah selesai, kamu bisa pergi,” katanya, mencoba menjaga jarak. “Tempat ini tidak punya hal istimewa.”

Pria itu menoleh, senyumnya kembali muncul.

“Kamu salah.”

Airel menatapnya, sedikit bingung dengan keyakinan di suaranya.

“Tempat ini punya alasan untuk membuat seseorang kembali.”

Kalimat itu membuat Airel terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, karena ada sesuatu yang terasa terlalu dekat dengan kenyataan yang selama ini ia hindari.

“Orang datang dan pergi,” ucapnya pelan. “Tidak semua kembali.”

Pria itu tidak membantah, tetapi sorot matanya berubah sedikit.

“Kadang yang kembali bukan cuma orangnya.”

Sebelum Airel sempat bertanya lebih jauh, pria itu sudah melangkah mundur.

“Aku harus pergi.”

Airel menatapnya, ada keinginan kecil untuk menahan atau sekadar bertanya lebih banyak. Namun kata-kata itu tidak keluar, seolah tertahan oleh sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak pahami.

Pria itu berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak sebelum masuk.

“Sampai jumpa, Airel.”

Langkahnya terhenti.

Nama itu.

Airel tidak pernah menyebutkannya, tidak sekali pun sejak pria itu datang. Namun ia mengucapkannya dengan cara yang terasa begitu familiar.

Airel menatap punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu. Jantungnya berdetak lebih cepat, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak punya jawaban pasti.

Angin kembali berembus, kali ini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ia menggenggam ujung bajunya, mencoba menenangkan diri yang mulai goyah.

Tatapannya kembali ke sisi kosong di sampingnya, tempat yang selama ini hanya diisi oleh kenangan.

Namun kali ini, ruang itu terasa berbeda.

Tidak sepenuhnya kosong.

“…kamu siapa?”

Terpopuler

Comments

𝐀⃝🥀Weny

𝐀⃝🥀Weny

wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅

2026-04-18

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 - Langit Yang Sepi
2 BAB 2 - Rutinitas Yang Hampa
3 BAB 3 - Janji Yang Tak Hilang
4 BAB 4 - Hari Hujan Yang Sama
5 BAB 5 - Orang Yang Tidak Mengerti
6 BAB 6 - Kemunculan Rave
7 BAB 7 - Sesuatu Yang Aneh
8 BAB 8 - Waktu Yang Hampir Habis
9 BAB 9 - Hampir Bertemu
10 BAB 10 - Orang Yang Sama
11 BAB 11 - Tatapan Tertinggal
12 BAB 12 - Orang Yang Tidak Asing
13 BAB 13 - Nama Baru
14 BAB 14 - Pertemuan Pertama
15 BAB 15 - Hal Yang Sama
16 BAB 16 - Rave Mulai Curiga
17 BAB 17 - Jarak Yang Aneh
18 BAB 18 - Kilas Balik Yang Rusak
19 BAB 19 - Tempat Yang Sama
20 BAB 20 - Bukan Kebetulan
21 BAB 21 - Percakapan Panjang
22 BAB 22 - Kebiasaan Baru
23 BAB 23 - Hujan Dan Satu Payung
24 BAB 24 - Hal Yang Tidak Disadari
25 BAB 25 - Tatapan Yang Sulit Dijelaskan
26 BAB 26 - Luka Yang Dibagi
27 BAB 27 - Nama Di Bibirnya
28 BAB 28 - Cemburu Yang Aneh
29 BAB 29 - Pengakuan Pada Diri Sendiri
30 BAB 30 - Perasaan Nyata
31 BAB 31 - Setelah Pengakuan
32 BAB 32 - Seseorang Dari Masa Lalu Zev
33 BAB 33 - Nama Yang Tak Pernah Disebut
34 BAB 34 - Rave Tidak Tenang
35 BAB 35 - Jarak Mendadak
36 BAB 36 - Kenangan Yang Tersentak
37 BAB 37 - Tempat Yang Disembunyikan
38 BAB 38 - Pertengkaran Pertama
39 BAB 39 - Foto Lama
40 BAB 40 - Peringatan
41 BAB 41 - Kata Yang Tertahan
42 BAB 42 - Kembali Seperti Semula
43 BAB 43 - Hari Yang Tenang
44 BAB 44 - Sisi Lembut Zev
45 BAB 45 - Rahasia Kecil Airel
46 BAB 46 - Simbol Lama
47 BAB 47 - Sentuhan Pertama
48 BAB 48 - Memilih Untuk Diam
49 BAB 49 - Hampir Mengaku
50 BAB 50 - Salah Waktu
51 BAB 51 - Ketakutan Yang Terukir
52 BAB 52 - Nama Di Dokumen Lama
53 BAB 53 - Zev Yang Berubah
54 BAB 54 - Foto Yang Sobek
55 BAB 55 - Pertanyaan Yang Dihindari
56 BAB 56 - Tempat Yang Memanggil
57 BAB 57 - Liontin Yang Sama
58 BAB 58 - Rave Makin Curiga
59 BAB 59 - Nama Yang Terucap
60 BAB 60 - Anak Yang Hilang
61 BAB 61 - Nama Yang Tidak Asing
62 BAB 62 - Rave Menahan Ucapan
63 BAB 63 - Zev Dan Mimpi Buruk
64 BAB 64 - Rumah Lama
65 BAB 65 - Potongan Kenangan
66 BAB 66 - Zev Menjauh
67 BAB 67 - Pertengkaran Yang Jujur
68 BAB 68 - Tes Yang Disembunyikan
69 BAB 69 - Hasil Yang Tak Ingin Dilihat
70 BAB 70 - Sebelum Semuanya Hancur
71 BAB 71 - Kata Yang Terlambat
72 BAB 72 - Pengakuan
73 BAB 73 - Rave Datang Terlambat
74 BAB 74 - Nama Asli
75 BAB 75 - Anak Yang Hilang Itu
76 BAB 76 - Saudara Kandung
77 BAB 77 - Jijik Pada Diri Sendiri
78 BAB 78 - Penantian Yang Salah
79 BAB 79 - Perpisahan
80 BAB 80 - Malam Terakhir
81 BAB 81 - Kota Yang Asing
82 BAB 82 - Nama Yang Tak Bisa Disebut
83 BAB 83 - Lelaki Tanpa Identitas
84 BAB 84 - Penyesalan Rave
85 BAB 85 - Rumah Yang Tak Hangat
86 BAB 86 - Surat Yang Tak Dikirim
87 BAB 87 - Pertemuan Singkat
88 BAB 88 - Belajar Menyebut Keluarga
Episodes

Updated 88 Episodes

1
BAB 1 - Langit Yang Sepi
2
BAB 2 - Rutinitas Yang Hampa
3
BAB 3 - Janji Yang Tak Hilang
4
BAB 4 - Hari Hujan Yang Sama
5
BAB 5 - Orang Yang Tidak Mengerti
6
BAB 6 - Kemunculan Rave
7
BAB 7 - Sesuatu Yang Aneh
8
BAB 8 - Waktu Yang Hampir Habis
9
BAB 9 - Hampir Bertemu
10
BAB 10 - Orang Yang Sama
11
BAB 11 - Tatapan Tertinggal
12
BAB 12 - Orang Yang Tidak Asing
13
BAB 13 - Nama Baru
14
BAB 14 - Pertemuan Pertama
15
BAB 15 - Hal Yang Sama
16
BAB 16 - Rave Mulai Curiga
17
BAB 17 - Jarak Yang Aneh
18
BAB 18 - Kilas Balik Yang Rusak
19
BAB 19 - Tempat Yang Sama
20
BAB 20 - Bukan Kebetulan
21
BAB 21 - Percakapan Panjang
22
BAB 22 - Kebiasaan Baru
23
BAB 23 - Hujan Dan Satu Payung
24
BAB 24 - Hal Yang Tidak Disadari
25
BAB 25 - Tatapan Yang Sulit Dijelaskan
26
BAB 26 - Luka Yang Dibagi
27
BAB 27 - Nama Di Bibirnya
28
BAB 28 - Cemburu Yang Aneh
29
BAB 29 - Pengakuan Pada Diri Sendiri
30
BAB 30 - Perasaan Nyata
31
BAB 31 - Setelah Pengakuan
32
BAB 32 - Seseorang Dari Masa Lalu Zev
33
BAB 33 - Nama Yang Tak Pernah Disebut
34
BAB 34 - Rave Tidak Tenang
35
BAB 35 - Jarak Mendadak
36
BAB 36 - Kenangan Yang Tersentak
37
BAB 37 - Tempat Yang Disembunyikan
38
BAB 38 - Pertengkaran Pertama
39
BAB 39 - Foto Lama
40
BAB 40 - Peringatan
41
BAB 41 - Kata Yang Tertahan
42
BAB 42 - Kembali Seperti Semula
43
BAB 43 - Hari Yang Tenang
44
BAB 44 - Sisi Lembut Zev
45
BAB 45 - Rahasia Kecil Airel
46
BAB 46 - Simbol Lama
47
BAB 47 - Sentuhan Pertama
48
BAB 48 - Memilih Untuk Diam
49
BAB 49 - Hampir Mengaku
50
BAB 50 - Salah Waktu
51
BAB 51 - Ketakutan Yang Terukir
52
BAB 52 - Nama Di Dokumen Lama
53
BAB 53 - Zev Yang Berubah
54
BAB 54 - Foto Yang Sobek
55
BAB 55 - Pertanyaan Yang Dihindari
56
BAB 56 - Tempat Yang Memanggil
57
BAB 57 - Liontin Yang Sama
58
BAB 58 - Rave Makin Curiga
59
BAB 59 - Nama Yang Terucap
60
BAB 60 - Anak Yang Hilang
61
BAB 61 - Nama Yang Tidak Asing
62
BAB 62 - Rave Menahan Ucapan
63
BAB 63 - Zev Dan Mimpi Buruk
64
BAB 64 - Rumah Lama
65
BAB 65 - Potongan Kenangan
66
BAB 66 - Zev Menjauh
67
BAB 67 - Pertengkaran Yang Jujur
68
BAB 68 - Tes Yang Disembunyikan
69
BAB 69 - Hasil Yang Tak Ingin Dilihat
70
BAB 70 - Sebelum Semuanya Hancur
71
BAB 71 - Kata Yang Terlambat
72
BAB 72 - Pengakuan
73
BAB 73 - Rave Datang Terlambat
74
BAB 74 - Nama Asli
75
BAB 75 - Anak Yang Hilang Itu
76
BAB 76 - Saudara Kandung
77
BAB 77 - Jijik Pada Diri Sendiri
78
BAB 78 - Penantian Yang Salah
79
BAB 79 - Perpisahan
80
BAB 80 - Malam Terakhir
81
BAB 81 - Kota Yang Asing
82
BAB 82 - Nama Yang Tak Bisa Disebut
83
BAB 83 - Lelaki Tanpa Identitas
84
BAB 84 - Penyesalan Rave
85
BAB 85 - Rumah Yang Tak Hangat
86
BAB 86 - Surat Yang Tak Dikirim
87
BAB 87 - Pertemuan Singkat
88
BAB 88 - Belajar Menyebut Keluarga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!