BAB 5 - Orang Yang Tidak Mengerti

Sore itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya, suasana yang jarang muncul di hari-hari biasa yang cenderung tenang. Aroma masakan memenuhi ruang makan, bercampur dengan suara piring yang saling bersentuhan dan langkah kaki yang hilir mudik dari dapur ke meja. Airel Virellia berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan ibunya yang sibuk menata hidangan dengan gerakan yang teratur dan tanpa terburu-buru.

Ibu Dahayu Virellia memang selalu seperti itu, tenang dalam kesibukan, rapi dalam setiap hal yang ia lakukan. Setiap gerakannya terasa sudah dipikirkan dengan baik, seolah semuanya berjalan sesuai urutan yang sudah ia pahami sejak lama. Berbeda dengan Airel yang lebih sering membiarkan hari-harinya berjalan tanpa banyak rencana, mengikuti alur yang terasa cukup selama ia masih bisa menjalaninya.

“Kamu bantu angkat yang itu,” ucap ibunya tanpa menoleh, tangannya tetap sibuk menata piring.

Airel mengangguk pelan, lalu mengambil mangkuk sup yang masih mengepul. Uapnya naik perlahan, membawa aroma hangat yang seharusnya terasa menenangkan. Ia membawanya dengan hati-hati, meletakkannya di meja makan yang sudah hampir penuh oleh berbagai hidangan.

Hari ini ada tamu.

Bukan orang asing, tetapi cukup jarang datang untuk membuat suasana rumah berubah sedikit. Arsen Kaelendra, sepupunya, duduk di ruang tengah sambil berbincang santai dengan ayahnya. Suaranya terdengar jelas dari tempat Airel berdiri, ringan dan mudah mengalir, sesekali diselingi tawa kecil yang membuat suasana terasa hidup.

Airel melirik sekilas ke arah mereka, hanya sebentar, lalu kembali fokus pada apa yang ia lakukan. Ia tidak terlalu suka menjadi pusat percakapan, apalagi saat pikirannya sedang tidak sepenuhnya di tempat itu.

“Airel, kamu sehat?” tanya ibunya tiba-tiba.

Pertanyaan itu terdengar biasa, seperti hal yang sering ditanyakan tanpa makna lebih. Namun ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Airel berhenti sejenak sebelum menjawab.

“Iya,” katanya singkat.

Ibunya akhirnya menoleh, menatapnya dengan sorot yang sedikit lebih lama dari biasanya. “Kamu kelihatan capek.”

Airel tersenyum tipis, mencoba menjaga ekspresi tetap ringan. “Biasa.”

Jawaban itu tidak diikuti penjelasan tambahan, seperti banyak hal lain yang ia simpan sendiri. Ibunya tidak langsung berbicara lagi, tetapi tatapannya belum sepenuhnya berpaling, seolah ada sesuatu yang masih ingin ia sampaikan namun belum menemukan cara yang tepat.

Suasana kembali diisi oleh suara peralatan makan yang disusun dan gesekan ringan piring di atas meja. Tidak lama kemudian, semua orang sudah duduk bersama, mengelilingi meja makan yang penuh dengan hidangan.

Percakapan dimulai dengan hal-hal ringan, topik yang tidak terlalu dalam dan mudah dibicarakan. Kampus, pekerjaan, kabar keluarga lain yang jarang bertemu, semuanya mengalir tanpa hambatan.

Arsen yang paling banyak berbicara, seperti biasa.

“Airel sekarang sibuk banget, ya?” tanyanya sambil mengambil minum, matanya sempat melirik ke arah Airel. “Tadi aku lihat kamu pulang lumayan sore.”

Airel mengangguk sedikit. “Ada kelas tambahan.”

“Setiap hari?” lanjut Arsen, alisnya terangkat sedikit.

Airel tidak langsung menjawab. Ia mengambil sendok, mengaduk sup di depannya pelan sebelum akhirnya mengangkat wajah.

“Enggak juga.”

Jawaban itu singkat, cukup untuk menutup permukaan percakapan, tetapi tidak benar-benar menghilangkan rasa penasaran.

Arsen bersandar di kursinya, memperhatikan Airel dengan lebih serius. “Tapi kamu memang sering pulang sore, kan?”

Kali ini Airel hanya diam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Ibunya melirik dari samping. “Dia memang begitu dari dulu.”

Nada suaranya datar, tidak menyalahkan, tetapi menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya diucapkan. Percakapan berhenti sejenak, suasana menjadi sedikit berbeda, seolah semua orang mulai menyadari arah pembicaraan yang berubah.

“Airel,” panggil ayahnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. “Kamu masih ke tempat itu?”

Sendok di tangan Airel berhenti.

Hanya sesaat.

Namun cukup untuk membuat semua orang di meja menyadari bahwa pertanyaan itu bukan hal baru.

Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Iya.”

Jawaban itu sederhana, tanpa ragu.

Arsen menatapnya, ekspresinya berubah sedikit. “Tempat yang sama?”

Airel mengangguk lagi.

Suasana menjadi lebih hening, bukan karena tidak ada suara, melainkan karena semua orang memilih untuk tidak langsung berbicara. Ada jeda yang terasa lebih panjang dari biasanya, seperti menunggu seseorang untuk melanjutkan.

Ibunya akhirnya meletakkan sendoknya. “Airel, sudah berapa lama?”

Pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu dijawab, karena jawabannya sudah diketahui oleh semua orang di sana. Namun tetap saja, kata-kata itu diucapkan, mungkin dengan harapan bahwa menyebutkannya akan membuat sesuatu berubah.

Airel menatap meja di depannya sejenak.

“Tujuh tahun.”

Tidak ada yang benar-benar terkejut.

Namun angka itu tetap terasa berat saat diucapkan.

Arsen menghela napas pelan, tangannya terlipat di atas meja. “Tujuh tahun itu lama, Rel.”

Airel tidak menjawab.

Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu, dalam berbagai bentuk dan dari berbagai orang. Kalimat yang terdengar masuk akal, tetapi tidak pernah benar-benar menyentuh apa yang ia rasakan.

“Udah tujuh tahun, relain aja.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Nada suaranya tidak keras, tidak juga memaksa, hanya terdengar seperti saran yang dianggap paling logis.

Namun bagi Airel, kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang tidak bisa ia pegang.

Ia tidak menatap siapa pun, matanya tetap tertuju pada mangkuk di depannya. Seolah mencoba menemukan sesuatu di sana yang tidak benar-benar ada.

Ibunya melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. “Ibu tahu kamu masih ingat. Itu wajar. Tapi hidup kamu juga harus jalan.”

Airel menarik napas pelan, lalu menghembuskannya tanpa suara. Tangannya kembali bergerak, mengaduk sup yang sudah mulai kehilangan hangatnya.

“Aku tetap jalan,” katanya.

Kalimat itu terdengar tenang, tidak menunjukkan perlawanan, tetapi juga tidak sepenuhnya setuju.

Arsen mengernyit sedikit. “Kalau kamu tetap ke sana setiap hari, itu bukan jalan, Rel.”

Airel tidak langsung menjawab.

Ia tahu bagaimana hal itu terlihat dari luar, seperti seseorang yang tidak bisa melepaskan masa lalu. Seperti seseorang yang berdiri di tempat yang sama tanpa ingin bergerak.

Namun mereka hanya melihat dari jauh.

Mereka tidak tahu apa yang ia rasakan setiap kali ia berada di sana.

Mereka tidak tahu bagaimana rasanya membawa sesuatu yang belum selesai selama itu.

“Aku enggak nahan diri di sana,” ucapnya pelan akhirnya. “Aku cuma datang.”

Kalimat itu sederhana, tetapi tidak memberi penjelasan yang benar-benar memuaskan.

Ibunya menatapnya lebih dalam. “Kamu nunggu dia, kan?”

Airel terdiam.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Ia tidak mengangguk.

Tidak juga menggeleng.

Namun diamnya sudah cukup.

Arsen mengusap wajahnya sebentar, seperti mencoba menahan sesuatu yang ingin ia katakan. “Rel, orang itu mungkin sudah punya hidup sendiri sekarang.”

Kata-kata itu tidak dimaksudkan untuk menyakiti, tetapi tetap terasa berat saat diucapkan.

Airel mengangkat wajahnya.

Matanya tidak menunjukkan kemarahan.

Tidak juga kesedihan yang jelas.

Hanya sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Mungkin,” katanya.

Jawaban itu membuat Arsen terdiam sejenak.

Ia sepertinya tidak menyangka akan mendapat respon sesingkat itu.

Ibunya menatap Airel lebih lama. “Kalau begitu, kenapa kamu masih…”

Kalimat itu tidak selesai.

Namun maksudnya sudah jelas.

Airel menunduk lagi, tangannya terdiam di atas meja. Ia tidak mencari alasan, tidak juga mencoba membela diri, karena apa yang ia lakukan bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah.

“Karena dia belum bilang apa-apa,” ucapnya pelan.

Ruangan itu kembali hening.

Semua orang memandangnya, mencoba memahami maksud dari kalimat itu.

Arsen mengernyit. “Maksud kamu?”

Airel mengangkat sedikit kepalanya, tatapannya tetap tenang.

“Dia bilang tunggu,” lanjutnya. “Dia enggak pernah bilang berhenti.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan emosi berlebihan.

Namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat suasana berubah.

Ibunya menahan napas sejenak, seperti baru menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. Ini bukan sekadar kebiasaan atau keras kepala, melainkan sesuatu yang masih berdiri di tempat yang sama, tidak tersentuh oleh waktu.

“Airel…” panggilnya pelan.

Namun Airel hanya menggeleng sedikit, bukan menolak, tetapi memberi tanda bahwa ia tidak ingin pembicaraan itu berlanjut.

Ia mengambil sendoknya lagi, mencoba kembali ke sesuatu yang lebih sederhana. Makan malam, percakapan ringan, hal-hal yang tidak menyentuh bagian itu.

Arsen akhirnya bersandar kembali, menghela napas panjang. “Kamu memang susah dibilangin.”

Nada suaranya lebih ringan, mencoba mengurangi ketegangan yang sempat muncul.

Airel tersenyum kecil.

Tidak ada bantahan.

Karena ia tahu, dari sudut pandang mereka, itu memang terlihat seperti itu.

Makan malam berlanjut, tetapi suasananya tidak lagi sama. Percakapan menjadi lebih hati-hati, seolah semua orang sepakat untuk tidak menyentuh topik yang baru saja dibuka.

Beberapa waktu kemudian, Airel berdiri dari kursinya.

“Aku ke kamar dulu,” katanya.

Ibunya mengangguk pelan. “Istirahat.”

Airel berjalan menjauh, langkahnya tidak terburu-buru. Ia menaiki tangga tanpa menoleh, masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu dengan pelan.

Ruangan itu langsung terasa sunyi.

Ia berdiri di tengah kamar, tidak langsung bergerak. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia melangkah ke arah jendela.

Di luar, langit sudah gelap sepenuhnya.

Lampu jalan menyala satu per satu, menerangi jalanan yang mulai sepi. Cahaya itu memantul di permukaan aspal, menciptakan pemandangan yang tenang namun terasa jauh.

Airel menyandarkan dahinya ke kaca jendela.

Dingin.

Sensasi itu cukup untuk membuat pikirannya sedikit lebih tenang, seolah menahan semua yang berusaha muncul kembali.

Kata-kata tadi terngiang.

Relain aja.

Kalimat itu terdengar sederhana, seperti sesuatu yang bisa dilakukan jika seseorang benar-benar mau. Namun bagi Airel, itu bukan pilihan yang bisa diambil begitu saja.

Ia tidak menunggu karena tidak punya pilihan lain.

Ia menunggu karena ada sesuatu yang masih mengikatnya.

Bukan hanya kenangan.

Melainkan sesuatu yang terasa nyata.

Sesuatu yang belum selesai.

Airel memejamkan matanya sebentar, lalu membuka kembali. Napasnya perlahan kembali teratur, meski pikirannya belum sepenuhnya tenang.

“Aku enggak marah,” gumamnya pelan.

Suaranya hampir tidak terdengar, lebih seperti pengakuan yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.

Ia menatap ke luar tanpa fokus yang jelas.

“Aku cuma…” ia berhenti sejenak.

“…masih di sini.”

Tangannya terangkat, menyentuh kaca jendela dengan ringan. Dingin itu tetap terasa, tidak berubah, seperti waktu yang terus berjalan tanpa pernah berhenti.

Namun Airel tetap berdiri di tempatnya.

Bukan karena ia tidak bisa pergi.

Melainkan karena ada bagian dari dirinya yang masih tertinggal di sana.

Di tempat yang sama.

Di waktu yang belum selesai.

Episodes
1 BAB 1 - Langit Yang Sepi
2 BAB 2 - Rutinitas Yang Hampa
3 BAB 3 - Janji Yang Tak Hilang
4 BAB 4 - Hari Hujan Yang Sama
5 BAB 5 - Orang Yang Tidak Mengerti
6 BAB 6 - Kemunculan Rave
7 BAB 7 - Sesuatu Yang Aneh
8 BAB 8 - Waktu Yang Hampir Habis
9 BAB 9 - Hampir Bertemu
10 BAB 10 - Orang Yang Sama
11 BAB 11 - Tatapan Tertinggal
12 BAB 12 - Orang Yang Tidak Asing
13 BAB 13 - Nama Baru
14 BAB 14 - Pertemuan Pertama
15 BAB 15 - Hal Yang Sama
16 BAB 16 - Rave Mulai Curiga
17 BAB 17 - Jarak Yang Aneh
18 BAB 18 - Kilas Balik Yang Rusak
19 BAB 19 - Tempat Yang Sama
20 BAB 20 - Bukan Kebetulan
21 BAB 21 - Percakapan Panjang
22 BAB 22 - Kebiasaan Baru
23 BAB 23 - Hujan Dan Satu Payung
24 BAB 24 - Hal Yang Tidak Disadari
25 BAB 25 - Tatapan Yang Sulit Dijelaskan
26 BAB 26 - Luka Yang Dibagi
27 BAB 27 - Nama Di Bibirnya
28 BAB 28 - Cemburu Yang Aneh
29 BAB 29 - Pengakuan Pada Diri Sendiri
30 BAB 30 - Perasaan Nyata
31 BAB 31 - Setelah Pengakuan
32 BAB 32 - Seseorang Dari Masa Lalu Zev
33 BAB 33 - Nama Yang Tak Pernah Disebut
34 BAB 34 - Rave Tidak Tenang
35 BAB 35 - Jarak Mendadak
36 BAB 36 - Kenangan Yang Tersentak
37 BAB 37 - Tempat Yang Disembunyikan
38 BAB 38 - Pertengkaran Pertama
39 BAB 39 - Foto Lama
40 BAB 40 - Peringatan
41 BAB 41 - Kata Yang Tertahan
42 BAB 42 - Kembali Seperti Semula
43 BAB 43 - Hari Yang Tenang
44 BAB 44 - Sisi Lembut Zev
45 BAB 45 - Rahasia Kecil Airel
46 BAB 46 - Simbol Lama
47 BAB 47 - Sentuhan Pertama
48 BAB 48 - Memilih Untuk Diam
49 BAB 49 - Hampir Mengaku
50 BAB 50 - Salah Waktu
51 BAB 51 - Ketakutan Yang Terukir
52 BAB 52 - Nama Di Dokumen Lama
53 BAB 53 - Zev Yang Berubah
54 BAB 54 - Foto Yang Sobek
55 BAB 55 - Pertanyaan Yang Dihindari
56 BAB 56 - Tempat Yang Memanggil
57 BAB 57 - Liontin Yang Sama
58 BAB 58 - Rave Makin Curiga
59 BAB 59 - Nama Yang Terucap
60 BAB 60 - Anak Yang Hilang
61 BAB 61 - Nama Yang Tidak Asing
62 BAB 62 - Rave Menahan Ucapan
63 BAB 63 - Zev Dan Mimpi Buruk
64 BAB 64 - Rumah Lama
65 BAB 65 - Potongan Kenangan
66 BAB 66 - Zev Menjauh
67 BAB 67 - Pertengkaran Yang Jujur
68 BAB 68 - Tes Yang Disembunyikan
69 BAB 69 - Hasil Yang Tak Ingin Dilihat
70 BAB 70 - Sebelum Semuanya Hancur
71 BAB 71 - Kata Yang Terlambat
72 BAB 72 - Pengakuan
73 BAB 73 - Rave Datang Terlambat
74 BAB 74 - Nama Asli
75 BAB 75 - Anak Yang Hilang Itu
76 BAB 76 - Saudara Kandung
77 BAB 77 - Jijik Pada Diri Sendiri
78 BAB 78 - Penantian Yang Salah
79 BAB 79 - Perpisahan
80 BAB 80 - Malam Terakhir
81 BAB 81 - Kota Yang Asing
82 BAB 82 - Nama Yang Tak Bisa Disebut
83 BAB 83 - Lelaki Tanpa Identitas
84 BAB 84 - Penyesalan Rave
85 BAB 85 - Rumah Yang Tak Hangat
86 BAB 86 - Surat Yang Tak Dikirim
87 BAB 87 - Pertemuan Singkat
88 BAB 88 - Belajar Menyebut Keluarga
Episodes

Updated 88 Episodes

1
BAB 1 - Langit Yang Sepi
2
BAB 2 - Rutinitas Yang Hampa
3
BAB 3 - Janji Yang Tak Hilang
4
BAB 4 - Hari Hujan Yang Sama
5
BAB 5 - Orang Yang Tidak Mengerti
6
BAB 6 - Kemunculan Rave
7
BAB 7 - Sesuatu Yang Aneh
8
BAB 8 - Waktu Yang Hampir Habis
9
BAB 9 - Hampir Bertemu
10
BAB 10 - Orang Yang Sama
11
BAB 11 - Tatapan Tertinggal
12
BAB 12 - Orang Yang Tidak Asing
13
BAB 13 - Nama Baru
14
BAB 14 - Pertemuan Pertama
15
BAB 15 - Hal Yang Sama
16
BAB 16 - Rave Mulai Curiga
17
BAB 17 - Jarak Yang Aneh
18
BAB 18 - Kilas Balik Yang Rusak
19
BAB 19 - Tempat Yang Sama
20
BAB 20 - Bukan Kebetulan
21
BAB 21 - Percakapan Panjang
22
BAB 22 - Kebiasaan Baru
23
BAB 23 - Hujan Dan Satu Payung
24
BAB 24 - Hal Yang Tidak Disadari
25
BAB 25 - Tatapan Yang Sulit Dijelaskan
26
BAB 26 - Luka Yang Dibagi
27
BAB 27 - Nama Di Bibirnya
28
BAB 28 - Cemburu Yang Aneh
29
BAB 29 - Pengakuan Pada Diri Sendiri
30
BAB 30 - Perasaan Nyata
31
BAB 31 - Setelah Pengakuan
32
BAB 32 - Seseorang Dari Masa Lalu Zev
33
BAB 33 - Nama Yang Tak Pernah Disebut
34
BAB 34 - Rave Tidak Tenang
35
BAB 35 - Jarak Mendadak
36
BAB 36 - Kenangan Yang Tersentak
37
BAB 37 - Tempat Yang Disembunyikan
38
BAB 38 - Pertengkaran Pertama
39
BAB 39 - Foto Lama
40
BAB 40 - Peringatan
41
BAB 41 - Kata Yang Tertahan
42
BAB 42 - Kembali Seperti Semula
43
BAB 43 - Hari Yang Tenang
44
BAB 44 - Sisi Lembut Zev
45
BAB 45 - Rahasia Kecil Airel
46
BAB 46 - Simbol Lama
47
BAB 47 - Sentuhan Pertama
48
BAB 48 - Memilih Untuk Diam
49
BAB 49 - Hampir Mengaku
50
BAB 50 - Salah Waktu
51
BAB 51 - Ketakutan Yang Terukir
52
BAB 52 - Nama Di Dokumen Lama
53
BAB 53 - Zev Yang Berubah
54
BAB 54 - Foto Yang Sobek
55
BAB 55 - Pertanyaan Yang Dihindari
56
BAB 56 - Tempat Yang Memanggil
57
BAB 57 - Liontin Yang Sama
58
BAB 58 - Rave Makin Curiga
59
BAB 59 - Nama Yang Terucap
60
BAB 60 - Anak Yang Hilang
61
BAB 61 - Nama Yang Tidak Asing
62
BAB 62 - Rave Menahan Ucapan
63
BAB 63 - Zev Dan Mimpi Buruk
64
BAB 64 - Rumah Lama
65
BAB 65 - Potongan Kenangan
66
BAB 66 - Zev Menjauh
67
BAB 67 - Pertengkaran Yang Jujur
68
BAB 68 - Tes Yang Disembunyikan
69
BAB 69 - Hasil Yang Tak Ingin Dilihat
70
BAB 70 - Sebelum Semuanya Hancur
71
BAB 71 - Kata Yang Terlambat
72
BAB 72 - Pengakuan
73
BAB 73 - Rave Datang Terlambat
74
BAB 74 - Nama Asli
75
BAB 75 - Anak Yang Hilang Itu
76
BAB 76 - Saudara Kandung
77
BAB 77 - Jijik Pada Diri Sendiri
78
BAB 78 - Penantian Yang Salah
79
BAB 79 - Perpisahan
80
BAB 80 - Malam Terakhir
81
BAB 81 - Kota Yang Asing
82
BAB 82 - Nama Yang Tak Bisa Disebut
83
BAB 83 - Lelaki Tanpa Identitas
84
BAB 84 - Penyesalan Rave
85
BAB 85 - Rumah Yang Tak Hangat
86
BAB 86 - Surat Yang Tak Dikirim
87
BAB 87 - Pertemuan Singkat
88
BAB 88 - Belajar Menyebut Keluarga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!