Pagi datang perlahan. Cahaya matahari menembus tirai kamar, menyelinap lembut ke dalam ruangan yang masih menyimpan sisa keheningan malam. Udara terasa ringan, namun tidak sepenuhnya kosong seolah ada sesuatu yang tertinggal, samar, tapi nyata.
Fania membuka matanya perlahan. Sejenak ia hanya menatap lurus ke depan. Diam. Pikirannya belum sepenuhnya terbangun, namun tubuhnya sudah lebih dulu mengingat.
Semalam, sentuhan itu. Gerakan yang begitu hati-hati. Kecupan singkat di keningnya. Dan bisikan pelan yang terasa lebih jelas dari suara apa pun.
“Good night, Sayang.”
Fania menghela napas tipis. Refleks. Lalu memalingkan wajahnya ke samping. Sisi ranjang di sebelahnya, kosong. Sprai itu sudah rapi. Tidak ada jejak hangat yang tersisa. Ronald sudah tidak ada, seperti biasa.
Fania bangkit duduk perlahan. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Tangannya bergerak tanpa sadar. Menyentuh keningnya sendiri. Tempat itu. Tempat yang semalam disentuh.
Ia berhenti sejenak. Jari-jarinya diam di sana, hangatnya. Seolah masih tersisa. Padahal ia tahu itu hanya perasaan. Namun tetap terasa nyata.
“Kenapa” gumamnya pelan. Ia menarik tangannya cepat. Seolah tersadar lalu menggeleng pelan.
Seperti ingin menyingkirkan semua itu. Namun pikirannya tidak semudah itu diarahkan. Bayangan itu tetap muncul, berulang. Dan semakin terasa.
Beberapa menit kemudian, Fania turun ke ruang makan, langkahnya pelan dan teratur. Ekspresinya sudah kembali seperti biasa, terkontrol dan netral. Seolah tidak ada yang berubah.
Di sana, Ronald sudah duduk rapi. Kemejanya terlihat luxury dan sempurna. Sarapan tersaji di hadapannya, ia makan dengan tenang. Tanpa tergesa seperti rutinitas yang selalu sama setiap pagi.
Fania masuk, duduk di kursinya. Berhadapan dengannya seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada sapaan, tak ada senyuman, tak ada “selamat pagi”. Hanya suara sendok dan piring yang beradu pelan.
Namun suasana pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena apa yang terlihat, tapi karena apa yang disadari. Fania…
RONALD & FANIA
BAB 18
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments