Pagi itu Fania bangun lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena ia sudah cukup istirahat.
Tapi karena tubuhnya sudah terbiasa tidak benar-benar pulih meskipun tidur cukup lama.
Matanya sedikit sembab.
Namun ia sudah terbiasa menutupinya dengan rutinitas.
Di dapur, ia menyiapkan sarapan seperti biasa.
Suara panci kecil, air mendidih, dan langkah pelan di lantai kayu menjadi satu-satunya suara di rumah yang masih terjaga.
Putra mereka masih tidur di kamar.
Ronald sudah berangkat sejak subuh.
Seperti hari-hari sebelumnya.
Fania menatap meja makan sebentar.
Dua kursi.
Satu untuk dirinya.
Satu untuk anaknya.
Dan satu kursi kosong yang dulu selalu punya “kehadiran”, meskipun tidak selalu fisik.
Sekarang kursi itu hanya jadi benda.
Tidak lebih.
“Ma…”
Suara kecil itu membuat Fania langsung menoleh.
Anaknya sudah berdiri di pintu dapur, memeluk boneka kecilnya.
“Mama bangun pagi lagi.”
Fania tersenyum kecil.
“Iya, Sayang. Mau sarapan?”
Anak itu mengangguk pelan lalu duduk di kursinya.
Fania menata makanan di meja.
Namun sebelum ia sempat duduk, anaknya berbicara lagi.
“Ma…”
Fania menoleh.
“Apa, Sayang?”
Anak itu terlihat ragu beberapa detik.
Lalu bertanya pelan.
“Kenapa Papa jarang di rumah?”
Gerakan Fania berhenti.
Hanya sebentar.
Tapi cukup untuk membuat udara di dapur terasa berbeda.
“Papa kerja, Sayang,” jawabnya pelan.
Anak itu mengangguk kecil.
Tapi tidak berhenti di situ.
“Papa marah sama Mama?”
Pertanyaan itu membuat jari Fania sedikit menegang di ujung sendok yang ia pegang.
Ia menatap anaknya lama.
Lalu menggeleng pelan.
“Enggak.”
“Tapi Papa jarang ngomong sama Mama.”
Fania tersenyum tipis, tapi matanya mulai berat.
“Papa lagi sibuk.”
Anak itu terdiam.
Lalu kembali makan perlahan.
Namun sebelum benar-benar diam, ia berkata lagi dengan suara kecil.
“Aku kangen Papa.”
Kata itu jatuh begitu saja.
Tanpa filter.
Tanpa sadar bahwa itu menembus sesuatu yang lebih dalam dari sekadar percakapan pagi.
Fania tidak langsung menjawab.
Tangannya berge…
RONALD & FANIA
BAB 106
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments