Ronald pulang lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.
Bukan karena semua urusan selesai.
Tapi karena ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya sejak semalam.
Tentang anaknya yang sakit.
Tentang suara Fania di telepon yang terdengar terlalu tenang.
Dan tentang kalimat yang tidak bisa ia lepaskan dari ingatan.
"Kita jadi terbiasa nggak saling butuh lagi."
Pesawat baru mendarat sore hari.
Ronald tidak langsung pulang ke rumah.
Ia menyempatkan diri membeli obat, buah, dan beberapa makanan ringan untuk anak mereka.
Hal-hal kecil yang dulu selalu ia pikirkan tanpa diminta.
Namun akhir-akhir ini terasa seperti sesuatu yang harus ia ingatkan sendiri.
Saat pintu rumah dibuka, suasana langsung menyambut dengan hening.
Tidak ada suara langkah kecil yang biasanya berlari menyambutnya.
Tidak ada panggilan “Ayah!” dari ujung ruang tamu.
Hanya sunyi.
Ronald melangkah pelan masuk.
Tasnya masih di tangan ketika ia mendengar suara dari kamar anaknya.
Di dalam kamar, Fania sedang duduk di samping ranjang.
Putra mereka sudah jauh lebih baik, hanya masih terlihat lemah dan tidur lebih banyak dari biasanya.
Fania mengganti kompres di dahi anak itu dengan gerakan pelan.
Matanya terlihat lelah.
Tapi tetap fokus.
Ronald berdiri di ambang pintu.
Beberapa detik ia hanya diam.
Melihat pemandangan itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa seperti sedang melihat hidup mereka dari luar.
Bukan sebagai bagian.
Tapi sebagai seseorang yang terlambat masuk ke dalamnya.
"Ayah…"
Suara kecil itu membuat Ronald tersentak.
Putra mereka sudah setengah bangun.
Matanya langsung mencari sosok itu.
Dan ketika melihat Ronald, wajahnya langsung berubah cerah.
"Ayah pulang…"
Ronald langsung masuk dan duduk di sisi ranjang.
"Iya, Ayah pulang."
Anak itu langsung memegang tangannya erat.
Seperti takut kehilangan lagi.
Fania berdiri pelan.
Memberi ruang.
Tidak berkata apa pun.
Hanya mengamati dari jauh.
Ronald mengusap rambut anaknya.
"Gimana sekarang?"
"Sakitnya udah nggak banyak…" jawab anak itu pelan.
"Tapi kem…
RONALD & FANIA
BAB 101
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments