Pagi itu rumah terasa seperti kemarin, seperti minggu lalu, seperti hari-hari yang sudah terlalu sering terulang.
Rapi.
Tenang.
Terlalu tenang.
Dan di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang perlahan tidak lagi bisa disembunyikan.
Fania bangun lebih dulu seperti biasa.
Ia menyiapkan sarapan, menata meja, memastikan semuanya siap sebelum anak mereka bangun.
Gerakannya tetap teratur, tapi matanya tidak seterang dulu.
Ada kelelahan yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya berganti bentuk.
Ronald keluar dari kamar sedikit lebih lambat.
Ia sudah berpakaian rapi, tapi wajahnya menunjukkan kurang tidur yang jelas.
Tatapannya sempat mencari Fania di dapur.
Ia berhenti sejenak di pintu.
“Aku berangkat pagi lagi,” ucapnya.
Fania menoleh sebentar.
“Iya.”
Tidak ada tambahan lain.
Tidak ada “hati-hati”.
Tidak ada “jangan terlalu capek”.
Hanya satu kata yang cukup untuk menutup percakapan.
Ronald mengangguk kecil, lalu berjalan ke arah pintu.
Namun sebelum keluar, ia berhenti lagi.
Seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi tidak menemukan bentuknya.
Akhirnya ia hanya pergi.
Fania menatap kepergian itu tanpa ekspresi lama.
Lalu kembali ke pekerjaannya.
Seolah itu sudah menjadi bagian paling normal dari hidupnya sekarang.
Di kantor, Ronald tidak benar-benar fokus.
Layar laptopnya menyala, tetapi pikirannya tidak berada di sana.
Ia beberapa kali membuka catatan kerja, lalu menutupnya lagi.
Tangannya sesekali memegang kepala, menghela napas panjang.
Di sela kesibukan itu, ponselnya bergetar.
Pesan dari rumah: laporan kecil tentang anak mereka.
Bukan dari Fania.
Hanya informasi singkat.
Ronald membaca pesan itu lama.
Lalu menutupnya tanpa membalas apa pun.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena ia tidak tahu harus menulis apa lagi selain “oke” yang terasa semakin kosong.
Sore hari, ia pulang lebih awal dari biasanya.
Namun rumah tetap tidak terasa berubah.
Fania ada di dapur.
Anak mereka bermain di ruang tengah.
Semuanya terlihat normal.
Terlalu normal.
…
RONALD & FANIA
BAB 108
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments