Pagi itu, suasana rumah tidak berubah dari kemarin.
Tidak ada kejadian besar.
Tidak ada pertengkaran.
Tapi justru di situlah letak masalahnya—semuanya terasa terlalu “biasa” untuk disebut baik-baik saja.
Fania sudah lebih dulu bangun.
Ia duduk di dapur sambil menatap gelas air yang belum ia sentuh.
Pikirannya tidak benar-benar di sana.
Lebih seperti tubuhnya hadir, tapi tidak dengan kesadarannya penuh.
Ronald keluar dari kamar beberapa menit kemudian.
Matanya langsung mencari Fania, seperti kebiasaan yang tidak ia sadari.
“Aku berangkat,” ucapnya singkat.
Fania menoleh.
“Iya.”
Hanya itu.
Tidak ada tambahan lain.
Tidak ada jeda yang dulu sering diisi dengan hal kecil—tatapan, senyum, atau sekadar “hati-hati”.
Ronald berhenti di dekat pintu dapur.
Seperti ada kebiasaan lama yang masih belum sepenuhnya mati.
“Fan…”
Fania menoleh lagi.
“Apa?”
Ronald ragu sebentar.
“Aku pulang agak malam hari ini.”
Fania mengangguk kecil.
“Oke.”
Tidak ada pertanyaan “kenapa”.
Tidak ada ekspresi kecewa.
Dan justru itu yang membuat Ronald diam lebih lama dari seharusnya.
Akhirnya ia pergi.
Di kantor, Ronald bekerja seperti biasa.
Tapi pikirannya mudah sekali melayang.
Ke rumah.
Ke percakapan yang semakin singkat.
Ke keheningan yang sekarang terasa seperti bagian dari hubungan mereka sendiri.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Fania.
“Jangan lupa makan.”
Ronald menatap pesan itu lama.
Tidak hangat. Tidak dingin.
Hanya… ada.
Ia membalas:
“Ya.”
Lalu meletakkan ponselnya lagi.
Sore hari, ia tidak langsung pulang.
Ia duduk di mobil cukup lama di parkiran kantor.
Tidak ada alasan jelas untuk tetap diam di sana.
Tapi juga tidak ada alasan kuat untuk segera pulang.
Akhirnya ia pulang juga.
Saat masuk rumah, ia mendengar suara anak mereka dari ruang tengah.
Tawa kecil.
Sesuatu yang masih murni di tengah hubungan orang dewasa yang semakin rumit.
“Aku pulang,” ucap Ronald.
Fania menoleh dari dapur.
“Ya.”
Ronald mendekat ke ruang tengah, duduk menemani anak mereka bermain.
Untuk beberapa menit, ia benar-b…
RONALD & FANIA
BAB 117
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments