Pagi itu, sinar matahari kembali menyapa setelah hujan semalaman. Embun masih menempel di ujung dedaunan, sementara udara segar mengalir masuk melalui jendela ruang makan yang terbuka.
Fania sudah lebih dulu bangun. Kali ini wajahnya tampak jauh lebih segar. Ia mengenakan pakaian rumah sederhana dengan rambut yang diikat asal. Sesekali ia mengaduk bubur yang sedang dimasaknya di atas kompor.
"Aromanya enak."
Suara Ronald membuat Fania menoleh.
"Lho, kamu udah bangun?"
Ronald mengangguk sambil menghampiri dapur.
"Aku bantu."
"Nggak usah."
"Boleh."
Fania menggeleng kecil.
"Masih ingat kan? Dokter bilang aku boleh mulai beraktivitas pelan-pelan."
Ronald tersenyum tipis.
"Aku ingat."
"Tapi aku juga ingat, jangan sampai kamu kecapekan."
Fania terkekeh.
"Aku cuma masak bubur."
"Bukan angkat lemari."
Ronald akhirnya ikut tertawa.
"Baiklah."
"Tapi aku yang cuci piring nanti."
"Deal."
Belum lama mereka berbincang, putra mereka muncul sambil membawa mobil-mobilan kecil.
"Pagi, Mama... Papa..."
"Pagi, Jagoan."
Anak kecil itu langsung memeluk kaki Fania.
"Mama udah sehat, ya?"
Fania membelai rambutnya lembut.
"Alhamdulillah, Mama sudah jauh lebih sehat."
"Berarti nanti kita bisa gambar bareng?"
"Bisa."
"Tapi habis sarapan dulu."
Anak itu mengangguk semangat.
---
Setelah sarapan selesai, Ronald bersiap berangkat ke kantor.
Sebelum keluar rumah, ia berhenti di depan pintu dan menoleh ke arah Fania.
"Hari ini aku mungkin sedikit sibuk."
Fania mengangguk.
"Nggak apa-apa."
"Asal jangan lupa makan."
Ronald tersenyum.
"Siap."
"Kalau ada apa-apa, telepon aku."
Fania mendekat, lalu merapikan kembali dasi Ronald yang sedikit bergeser.
"Kamu tahu?"
"Apa?"
"Aku sekarang nggak takut kalau kamu berangkat kerja."
Ronald menatapnya beberapa saat.
"Kenapa?"
"Karena aku tahu kamu akan pulang."
Kalimat sederhana itu membuat hati Ronald menghangat.
Ia menggenggam tangan Fania sebentar.
"Aku pasti pulang."
"Bukan cuma ke rumah."
"Tapi pulang ke kalian."
---
Di kantor, pekerjaan Ronald memang lebih…
RONALD & FANIA
BAB 152
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments