Malam itu, setelah putra mereka tertidur, Ronald dan Fania tidak langsung masuk ke kamar, mereka masih duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh hangat yang mulai kehilangan uapnya.
Rumah sudah kembali tenang, tetapi pikiran keduanya masih dipenuhi oleh berbagai cerita tentang hari pertama sekolah.
"Aku masih nggak nyangka dia udah sekolah," gumam Fania sambil tersenyum kecil.
Ronald yang duduk di sampingnya mengangguk pelan. "Aku juga."
Beberapa detik kemudian, keduanya sama-sama tertawa karena jika dipikir-pikir, mereka baru saja melewati satu fase besar dalam hidup tanpa benar-benar menyadarinya.
Dulu mereka menunggu kelahirannya dengan penuh harap kemudian mereka belajar menjadi orang tua dari nol, belajar mengganti popok, belajar menenangkan tangisan tengah malam, belajar memahami bahasa bayi yang bahkan tidak memiliki kata-kata.
Dan sekarang, anak kecil itu sudah mulai memiliki dunianya sendiri, perasaan itu membuat hati Fania hangat sekaligus sedikit sesak.
"Aku takut waktu jalan terlalu cepat." Kalimat itu keluar begitu saja.
Ronald menoleh menatap istrinya, ia bisa memahami maksud kalimat tersebut tanpa perlu penjelasan tambahan, karena sebenarnya ia merasakan hal yang sama.
"Tapi kita nggak bisa menghentikannya."
"Iya."
"Yang bisa kita lakukan cuma menikmatinya."
Fania tersenyum tipis meski sederhana, kalimat Ronald selalu memiliki cara tersendiri untuk menenangkannya.
***
Hari-hari berikutnya berjalan dengan lebih teratur, putra mereka mulai terbiasa dengan rutinitas sekolah, setiap pagi ia bangun dengan semangat, memakai seragamnya sendiri meski kancingnya sering salah pasang, lalu berlari ke meja makan sambil terus bercerita tentang hal-hal yang bahkan belum terjadi.
"Aku hari ini mau gambar dinosaurus."
"Memangnya ada pelajaran dinosaurus?" tanya Ronald.
"Nggak."
"Terus?"
"Aku mau gambar aja."
Logika anak kecil memang sering kali tidak membutuhkan alasan.
Dan entah kenapa, itu selalu berhasil membuat Ronald dan Fania tertawa.
Semakin hari, cerita ya…
RONALD & FANIA
BAB 92
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments