Pagi itu, Ronald sudah berada di ruang rapat sejak pukul delapan.
Presentasi proyek baru saja dimulai ketika ponselnya yang berada dalam mode senyap berkedip beberapa kali.
Layar itu menampilkan satu nama.
Fania.
Ronald sempat ingin mengangkatnya.
Namun salah seorang klien sedang menjelaskan poin penting sehingga ia mengurungkan niatnya.
"Nanti aku telepon balik," gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar.
Masih dari Fania.
Kening Ronald mulai berkerut.
Fania bukan tipe orang yang akan menelepon berkali-kali jika tidak ada sesuatu yang penting.
Perasaan gelisah kembali muncul.
Namun rapat belum juga selesai.
---
Di rumah, Fania duduk di lantai ruang tamu sambil memegangi kepalanya.
Sejak bangun pagi, rasa pusing itu jauh lebih hebat daripada hari-hari sebelumnya.
Pandangannya sesekali mengabur.
Tubuhnya juga terasa sangat lemas.
Ia sebenarnya hanya ingin mendengar suara Ronald.
Bukan untuk mengeluh.
Hanya ingin mengatakan bahwa dirinya akan beristirahat hari ini.
Namun telepon itu belum terangkat.
Fania tersenyum kecil.
"Mungkin Mas lagi rapat."
Ia tidak ingin mengganggu lagi.
---
Tak lama kemudian, Chaerlina datang sesuai janji.
Begitu pintu dibuka, ia langsung terkejut melihat wajah Fania.
"Ya Allah, Fan!"
"Kamu pucat banget."
Fania mencoba tersenyum.
"Aku nggak apa-apa."
Chaerlina langsung menggeleng.
"Jangan mulai lagi."
"Kamu duduk."
"Aku ambilin air."
Fania menurut tanpa membantah.
Tubuhnya memang terasa terlalu lemah untuk berdiri lama.
---
Chaerlina menyentuh dahi Fania.
Tidak demam.
Namun telapak tangan Fania terasa dingin.
"Fan."
"Kita ke rumah sakit."
"Nggak usah."
"Ronald pasti khawatir."
"Justru karena itu."
"Aku nggak mau dia kepikiran."
Chaerlina menghela napas panjang.
"Aku lebih takut kalau kamu kenapa-kenapa."
---
Sementara itu, rapat Ronald akhirnya selesai.
Begitu keluar ruangan, ia langsung membuka ponselnya.
Ada dua panggilan tak terjawab dari Fania.
Belum sempat ia menelepon balik, ponselnya kembali berdering.
Kali in…
RONALD & FANIA
BAB 143
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments