Pagi itu hujan turun sejak subuh.
Rintik-rintik air membasahi kaca jendela rumah, membuat suasana terasa lebih sendu dari biasanya.
Namun di dalam rumah itu, hujan bukanlah satu-satunya hal yang turun perlahan.
Ada kehangatan yang juga mulai memudar, sedikit demi sedikit.
Fania sedang melipat pakaian di ruang keluarga.
Tangannya bekerja seperti biasa.
Rapi.
Tenang.
Teratur.
Tetapi pikirannya tidak berada di sana.
Ia hanya melakukan semuanya karena memang harus dilakukan.
Ronald keluar dari kamar sambil mengenakan jas.
Matanya sempat berhenti pada Fania.
Dulu, ia pasti akan menghampiri, memeluk dari belakang, atau sekadar mencium kening istrinya sebelum berangkat.
Sekarang...
Ia hanya berdiri beberapa detik.
Seolah ingin melakukan hal yang sama, tetapi ragu apakah itu masih pantas.
"Aku berangkat."
Suara Ronald memecah keheningan.
Fania mengangkat wajah.
"Iya."
"Hari ini mungkin pulang malam."
Fania kembali mengangguk.
"Hati-hati."
Hanya itu.
Kalimat yang terdengar sopan.
Namun terasa begitu jauh.
Ronald menghela napas pelan sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, pikirannya terus memutar percakapan singkat tadi.
Fania sudah tidak pernah bertanya lagi.
Tidak pernah bertanya sedang mengerjakan proyek apa.
Tidak pernah bertanya kapan ia selesai.
Tidak pernah mengeluh karena ia pulang malam.
Awalnya Ronald menganggap itu pertanda baik.
Ia mengira Fania akhirnya memahami kesibukannya.
Tetapi entah mengapa...
Semakin hari, justru muncul perasaan tidak nyaman.
Seolah-olah Fania tidak lagi ingin masuk ke dalam kehidupannya.
Sementara itu di rumah...
Fania menyelesaikan pekerjaan rumah satu per satu.
Setelah semuanya selesai, ia duduk di ruang tengah.
Rumah terasa sangat sepi.
Anak mereka sedang tidur siang.
Dan Ronald sudah berada di kantor.
Tanpa sadar, Fania mengambil ponselnya.
Membuka ruang obrolannya dengan Ronald.
Ia membaca percakapan mereka beberapa minggu terakhir.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada kata-kata kasar.
Namun hampir se…
RONALD & FANIA
BAB 121
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments