Pagi itu, hujan turun rintik-rintik membasahi halaman rumah. Butiran air yang jatuh perlahan menimbulkan suara menenangkan di atas genting dan dedaunan. Udara terasa lebih sejuk dari biasanya, membuat suasana rumah dipenuhi kehangatan yang sederhana.
Fania berdiri di balik jendela ruang tamu sambil menikmati secangkir teh hangat. Uap tipis mengepul dari cangkir di tangannya, menghangatkan jemarinya yang masih terasa dingin. Sudah hampir dua minggu sejak dirinya keluar dari rumah sakit. Kondisinya jauh lebih baik dibandingkan beberapa hari lalu, meski Ronald masih belum mengizinkannya melakukan pekerjaan yang terlalu berat.
Sesekali Fania memandangi halaman depan rumah yang basah oleh hujan. Entah mengapa, pagi itu hatinya terasa begitu damai.
"Nald, hujannya deras juga."
Ronald yang sedang merapikan dasinya di depan cermin menoleh sambil tersenyum.
"Iya. Untung berangkatnya masih ada waktu."
Fania menghampirinya perlahan. Tatapannya tertuju pada kerah kemeja Ronald yang sedikit miring.
"Tunggu."
Ronald diam mengikuti gerakan istrinya.
Fania merapikan kerah kemeja itu dengan hati-hati, lalu mengusap bahunya pelan.
"Nah, sekarang baru rapi."
Ronald tidak langsung menjawab. Ia justru menatap wajah Fania cukup lama, membuat wanita itu salah tingkah.
"Kenapa?"
"Kamu tahu nggak?"
"Apa?"
"Aku paling suka momen kayak gini."
"Momen apa?"
"Sebelum berangkat kerja, kamu masih sempat ngingetin aku hal-hal kecil."
Fania tersenyum malu.
"Kan memang tugas istri."
Ronald menggeleng pelan.
"Bukan."
"Itu bentuk perhatian."
"Dan sekarang aku sadar, perhatian sekecil apa pun ternyata bisa bikin seseorang semangat menjalani hari."
Mata Fania menghangat mendengar ucapan itu. Dahulu, perhatian-perhatian kecil seperti ini sering kali luput dari Ronald. Kini, justru hal-hal sederhana itulah yang paling ia hargai.
"Kalau begitu," ujar Fania sambil tersenyum, "pulangnya jangan terlalu malam."
Ronald mengangkat tangan kanannya seolah sedang bersumpah.
"Siap, Bu."
Saat itu pula putra mereka tur…
RONALD & FANIA
BAB 150
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments