Empat Hari
Pagi itu datang lebih cepat dari yang Fania kira.
Jam di dinding baru menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh ketika rumah sudah mulai dipenuhi aktivitas. Ronald berdiri di depan lemari, memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Kemeja, celana, dokumen pekerjaan, charger, dan beberapa perlengkapan pribadi sudah tersusun rapi di dalam koper.
Di atas meja, Fania menyiapkan sarapan sederhana.
"Nald."
"Hm?"
"Paspor jangan lupa."
Ronald yang sedang memeriksa isi tas langsung berhenti.
"Astaga."
Ia menepuk dahinya.
"Untung kamu ingat."
Fania terkekeh.
"Makanya jangan cuma mikirin kerjaan."
Ronald mengambil paspornya dari meja.
"Kalau nggak ada kamu, mungkin aku sudah sampai bandara baru sadar."
"Makanya jangan jauh-jauh."
Ucapan itu keluar begitu saja.
Ronald terdiam sejenak.
Ia menatap Fania yang sedang menuangkan teh ke dalam cangkir.
"Kamu takut aku pergi?"
Fania tersenyum kecil.
"Sedikit."
"Takut?"
"Lebih tepatnya... belum terbiasa."
Ronald menghampirinya.
"Aku cuma empat hari."
"Aku tahu."
"Aku akan telepon setiap malam."
Fania mengangguk.
"Dan kabarin kalau sudah sampai."
"Janji."
Ronald kemudian mengecup kening istrinya.
---
Tak lama kemudian, putra mereka bangun.
Begitu melihat koper di dekat pintu, wajahnya langsung berubah.
"Papa mau pergi?"
Ronald berjongkok di hadapannya.
"Iya."
"Berapa lama?"
"Empat hari."
Anak kecil itu menghitung dengan jarinya.
"Satu... dua... tiga... empat."
"Berarti empat malam Papa nggak di rumah?"
Ronald tersenyum.
"Iya."
Anak itu terlihat sedikit sedih.
"Tapi Papa janji telepon."
"Papa janji."
"Dan jangan lupa bawa mobil-mobilan aku."
Ronald tertawa.
"Sudah masuk koper."
Anak itu langsung tersenyum.
"Kalau begitu boleh."
Fania memperhatikan keduanya sambil menahan rasa haru.
Dulu mungkin Ronald akan berangkat begitu saja.
Kini, ia selalu memastikan keluarganya tahu ke mana ia pergi, berapa lama ia akan pergi, dan kapan ia akan kembali.
Hal sederhana.
Namun bagi Fania, itu sangat berarti.
---
Sekitar pukul enam tiga puluh…
RONALD & FANIA
BAB 155
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments