Malam datang tanpa banyak perubahan di rumah itu.
Seperti hari-hari sebelumnya, semuanya berjalan rapi.
Terlalu rapi.
Fania sudah memastikan putra mereka tidur lebih awal.
Ia merapikan mainan yang berserakan di ruang tengah, menyapu sedikit debu di lantai, lalu mematikan lampu satu per satu.
Gerakannya pelan, stabil, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan semuanya sendiri tanpa perlu bantuan siapa pun.
Ronald masih di rumah.
Namun keberadaannya tidak benar-benar terasa.
Ia duduk di ruang kerja sejak tadi, pintu sedikit terbuka, laptop menyala di depannya, tetapi tidak ada pekerjaan yang benar-benar ia selesaikan.
Pikirannya tidak fokus.
Bukan karena tidak ada tugas.
Tapi karena terlalu banyak hal yang mengganggu kepalanya.
Fania lewat di depan ruang kerja tanpa masuk.
Ia membawa segelas air untuk Ronald seperti biasa.
Meletakkannya di meja samping tanpa berkata apa pun.
Dulu, momen seperti ini selalu diikuti percakapan kecil.
Sekadar “makasih” atau “kamu capek ya?”
Sekarang tidak ada.
Fania hanya meletakkan gelas itu.
Lalu pergi.
Ronald menatap gelas itu lama.
Namun tidak memanggil Fania.
Tidak menahannya.
Karena ia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.
Di kamar, Fania duduk di tepi ranjang setelah memastikan anak mereka benar-benar tertidur.
Lampu kecil menyala redup.
Cahaya hangat itu biasanya membuatnya merasa tenang.
Tapi malam ini tidak terlalu membantu.
Ia membuka ponsel sebentar.
Tidak ada pesan baru dari Ronald selain hal-hal penting pekerjaan.
Tidak ada “sudah tidur?”
Tidak ada “kamu capek?”
Tidak ada lagi percakapan yang tidak penting tapi dulu terasa berarti.
Fania menutup ponsel itu lagi.
Pelan.
Lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar.
Matanya menatap langit-langit.
Diam.
Di ruang kerja, Ronald akhirnya mematikan laptopnya.
Bukan karena selesai.
Tapi karena tidak bisa lagi berpura-pura bekerja.
Ia berdiri dan berjalan ke kamar.
Langkahnya pelan.
Seperti seseorang yang sedang masuk ke ruang yang dulu sangat ia kenal, tapi sekarang…
RONALD & FANIA
BAB 104
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments