Pagi itu, suara kicauan burung membangunkan Fania lebih awal dari biasanya.
Ia membuka mata perlahan, lalu menoleh ke sisi tempat tidur.
Ronald sudah tidak ada.
Fania mengernyit pelan.
Jarum jam baru menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.
"Ke mana, ya?"
Ia bangkit perlahan, masih mengingat pesan dokter agar tidak terburu-buru melakukan aktivitas berat.
Saat membuka pintu kamar, aroma harum memenuhi seluruh rumah.
Wangi mentega yang dipanggang bercampur dengan kopi hangat membuat Fania tanpa sadar tersenyum.
Langkahnya mengarah ke dapur.
Di sana, Ronald sedang sibuk mengenakan celemek berwarna abu-abu.
Di atas meja sudah tersusun dua piring berisi roti panggang, telur mata sapi, potongan buah, dan segelas susu.
"Nald?"
Ronald menoleh.
"Wah, kok udah bangun?"
"Kamu lagi apa?"
"Masak."
Fania tertawa kecil.
"Kali ini gosong lagi nggak?"
Ronald berpura-pura tersinggung.
"Jangan meremehkan kemampuan chef rumahan."
Fania mendekat, lalu mengintip isi wajan.
"Kelihatannya... berhasil."
Ronald mengembuskan napas lega.
"Syukurlah."
"Ternyata latihan tiap pagi ada hasilnya."
Fania memandang suaminya beberapa saat.
Dulu, lelaki itu hampir tidak pernah menginjak dapur.
Kini, setiap pagi Ronald selalu berusaha menyiapkan sarapan, meskipun sederhana.
Bukan karena Fania memintanya.
Melainkan karena ia ingin melakukannya.
"Terima kasih."
Ronald tersenyum.
"Hari ini nggak boleh bilang makasih."
"Lho, kenapa?"
"Karena aku lagi pengin dimuji."
Fania terkekeh.
"Iya, Chef Ronald."
"Sarapan hari ini kelihatannya enak."
Ronald tersenyum puas.
"Nah, gitu."
Tak lama kemudian, putra mereka turun sambil mengucek mata.
"Papa..."
"Pagi, Jagoan."
"Lapar."
Ronald tertawa.
"Pas banget."
"Sarapan sudah siap."
Mereka bertiga duduk mengelilingi meja makan.
Suasana hangat itu kembali memenuhi rumah.
Di sela-sela sarapan, Ronald sesekali memperhatikan Fania.
"Kamu masih pusing?"
Fania menggeleng.
"Nggak."
"Kalau capek?"
"Nanti aku istirahat."
Ronald mengangguk puas.
"Itu baru istriku."
Fania ters…
RONALD & FANIA
BAB 148
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments