BAB 146
Pulang ke Rumah
Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai kamar rawat.
Fania sudah terbangun lebih dulu. Ia duduk bersandar di ranjang sambil memandangi taman kecil yang terlihat dari jendela. Udara pagi terasa segar, jauh berbeda dibandingkan beberapa hari terakhir yang dipenuhi rasa cemas.
Tak lama kemudian, Ronald datang membawa dua gelas susu hangat.
"Kok udah bangun?"
Fania menoleh sambil tersenyum.
"Udah nggak bisa tidur."
Ronald menyerahkan salah satu gelas kepadanya.
"Minum dulu."
Fania menerimanya.
"Nald."
"Hm?"
"Makasih."
Ronald menggeleng pelan.
"Jangan kebanyakan bilang makasih."
"Kenapa?"
"Soalnya semua ini memang seharusnya aku lakuin."
Fania tersenyum tipis.
Ia tahu, Ronald benar-benar menyesali semua kesalahan yang pernah ia lakukan.
Namun kini, ia tidak ingin terus hidup di masa lalu.
Ia ingin melihat langkah-langkah kecil yang sedang dibangun Ronald hari ini.
---
Sekitar pukul sembilan pagi, dokter kembali datang melakukan pemeriksaan terakhir.
Tekanan darah Fania sudah stabil.
Keluhan pusing pun jauh berkurang.
Dokter tersenyum puas.
"Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik."
"Ibu sudah boleh pulang hari ini."
Mendengar kalimat itu, Ronald langsung mengembuskan napas lega.
"Terima kasih, Dok."
"Tapi ingat."
Dokter kembali mengingatkan.
"Jangan memaksakan aktivitas."
"Kalau tubuh lelah, segera istirahat."
"Pola makan juga harus dijaga."
Ronald mengangguk berkali-kali.
"Baik, Dok."
"Saya ingat."
Dokter tersenyum melihat kesungguhan Ronald.
"Saya titip pasiennya."
Ronald menatap Fania sekilas, lalu kembali kepada dokter.
"Dengan senang hati."
---
Setelah semua administrasi selesai, Ronald membantu Fania mengenakan cardigan.
Gerakannya begitu hati-hati.
Seolah takut membuat Fania merasa tidak nyaman.
"Nald."
"Iya?"
"Aku bisa sendiri."
"Aku tahu."
"Tapi biarin aku bantu."
Fania akhirnya pasrah.
Diam-diam ia menikmati perhatian yang diberikan Ronald.
Perhatian yang dulu begitu ia rindukan.
---
Tak lama kemudian, putra mereka…
RONALD & FANIA
BAB 146
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments