Pagi itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya.
Putra mereka berlarian dari ruang keluarga menuju kamar sambil membawa seragam sekolah yang belum sepenuhnya dikenakan.
"Mama! Papa! Aku telat!"
Fania yang sedang menyiapkan sarapan langsung menoleh.
"Belum telat."
"Tapi jamnya..."
"Masih ada dua puluh menit."
Anak itu berhenti berlari.
"Oh."
Ronald yang baru turun dari tangga tertawa kecil.
"Kalau Papa nggak bilang, kamu mungkin sudah lari sampai sekolah."
Anak itu cemberut.
"Takut telat."
Ronald mendekat lalu membantu merapikan kerah seragam putranya.
"Makanya, malam jangan tidur terlalu larut."
"Iya, Pa."
Fania memperhatikan mereka sambil tersenyum.
Pemandangan sederhana itu semakin sering ia lihat belakangan ini.
Ronald yang dulu terburu-buru berangkat kini selalu menyempatkan diri sarapan bersama.
Ia tidak lagi menganggap beberapa menit bersama keluarga sebagai sesuatu yang bisa ditunda.
Setelah sarapan, Ronald mengantar putra mereka ke sekolah.
Sebelum masuk mobil, Fania menyerahkan sebuah kotak kecil.
"Ini bekal kamu."
Ronald mengangkat alis.
"Bekal?"
"Iya."
"Aku kan ke kantor."
"Justru itu."
Fania tersenyum.
"Kamu sering lupa makan kalau sibuk."
Ronald menerima kotak itu dengan wajah bahagia.
"Terima kasih."
Ia kemudian mendekat dan mencium kening Fania.
"Aku berangkat."
"Hati-hati."
---
Beberapa jam kemudian, suasana kantor Ronald berubah cukup drastis.
Ia baru saja menyelesaikan sebuah rapat ketika sekretarisnya masuk membawa dokumen.
"Pak, ini surat dari kantor pusat."
Ronald menerima map tersebut.
"Ada apa?"
"Saya kurang tahu, Pak. Katanya cukup penting."
Ronald membuka dokumen itu.
Matanya bergerak membaca setiap baris.
Semakin jauh ia membaca, ekspresinya semakin serius.
Pihak kantor pusat menginginkannya memimpin sebuah proyek besar selama beberapa bulan.
Proyek itu bukan sekadar pekerjaan biasa.
Jika berhasil, posisinya di perusahaan akan semakin kuat.
Namun proyek tersebut mengharuskannya melakukan perjalanan ke beberapa kota dan menghabiskan lebih ba…
RONALD & FANIA
BAB 153
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments