RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

BAB 1

Sepasang suami istri tengah duduk saling berhadapan di kelilingi hiasan indah berupa bunga-bunga dan berbagai hiasan perayaan lainnya.

Yang mana menambah kesan romantic dan penuh cinta, jelas semua itu telah disiapkan sedemikian rupa oleh salah satu dari dua insan yang tengah duduk dengan tenang itu.

Fania Narendra, wanita cantik dengan lesung pipi yang terlihat manis menghiasi kedua pipinya, ia menatap teduh ke arah pria matang di depannya, yang terlihat semakin menawan.

Namun entah mengapa hatinya merasa mengganjal dengan pandangan itu, seolah tak puas.

Sementara Ronal Andana, balik menatap wanita cantik di hadapannya dengan senyuman manisnya, kekagumannya pada istrinya itu tak pernah surut dimakan waktu, bahkan sampai detik ini dirinya masih terus dibuat jatuh cinta oleh wanita menawan itu.

“Ini anniversary pernikahan kita ke-3, aku berharap tahun depan sudah ada bayi mungil yang akan menambah warna pernikahan kita, Sayang.”

Ronald mengulas senyumannya dengan menggenggam tangan Fania, demi menyalurkan kehangatan yang Ia rasakan saat membayangkan hal itu.

Memang sudah tiga tahun mereka menjalani rumah tangga, namun sampai detik ini mereka belum juga dikaruniai keturunan, bukan karena mereka tidak bisa, tapi memang Fania yang belum ingin memiliki seorang anak, karena alasan karir.

Fania menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dirinya teringat sesuatu yang perlu Ia sampaikan pada suaminya.

“Ronald, apa kamu memang ingin segera memiliki baby untuk saat ini?” tanya Fania dengan ragu.

Fania sudah tahu jawabannya apa, namun ia benar-benar ingin membuka obrolan itu untuk mencapai pada titip perbincangan inti yang ingin diungkapkannya.

“Sayang, tentu saja. Bukankah pernikahan memang wajarnya juga karena ingin memiliki keturunan? Aku pun sama, meskipun keturunan bukanlah alasan utama pernikahan."

"Tapi membayangkan memiliki miniatur dirimu ada di sini, membuatku bahagia.” Jelas Ronald dengan antusiasnya, memang dirinya menginginkan bayi yang lucu sudah sejak tahun pertama pernikahan.

Namun keinginan Fania, ia berusaha untuk menuruti wanita yang begitu dicintainya itu.

“Maafkan aku, Ronald. Bisakah kita menundanya dulu, karena aku belum siap?” tanya Fania dengan gugup, rasanya seperti pengakuan dosa saat ini, karena ia kembali menolak keinginan suaminya.

Ronald menghela nafas panjang, berusaha untuk memaklumi keinginan Fania, mungkin memang istrinya belum siap, karena latar belakang keluarganya.

Ia berusaha untuk memaklumi hal itu, tapi ia juga butuh alasan yang jelas, kalau kemarin karir lalu apalagi saat ini.

“Baiklah, Sayang. Tapi apa alasannya sehingga kamu belum siap? Apa kali ini karir lagi? Aku rasa karirmu sudah baik saat ini, kamu sudah menjadi desainer terkenal. Dan rata-rata kalangan atas, memakai jasamu bukan?” sarkas Ronald menginterupsi jika memang alasannya masihlah karir.

Fania menunduk pelan, takut sebenarnya untuk mengatakan kejujuran yang dipendamnya ini, namun kalau Ia menundanya, pasti akan tambah runyam.

Fania berusaha untuk mengangkat kembali kepalanya, menatap Ronald yang masih setia menatap lekat dirinya. “Ak… ku, apa kamu tak akan marah, bila aku jujur?” tanya Fania dnegan ragu.

Ronald mengangguk mantap. “Bicaralah sejujurnya, aku tak akan marah.”

“Ronald, ehm… aku merasa perasaan cintaku untukmu seakan lenyap dan hi… lang. Maafkan aku” Fania akhirnya mengungkapkan kegundahan hatinya dengan jujur, bahkan Ia tak berani mengangkat kepalanya lagi setelah kembali menunduk.

Deg

Ronald tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, hatinya terasa sesak dan perih mendengar penuturan Fania yang jujur, sungguh kalimat yang baru saja Ia dengar dari bibir manis istrinya tak pernah terbesit sedetik penting dalam pikirannya selama ini.

Ronald menatap sendu ke arah Fania dengan netra yang sudah berkaca-kaca, lidahnya kelu hanya untuk mengeluarkan satu kata pun, ini teramat perih untuk dirinya rasakan.

Tiga tahun, mereka sudah hidup bersama dalam satu atap, ia pikir sudah mengenal Fania luar dan dalam, seluruh yang ada pada Fania, Ia pikir sudah Ia pahami dan Ia kenali.

Tapi detik ini, dirinya merasa tak lagi mengenal wanita di hadapannya itu.

Benarkah wanita yang selama ini ia cintai yang baru saja mengutarakan kalimat menyakitkan itu, apa salahnya, dan apa kekurangannya? sehingga Fania berkata dengan begitu teganya saat ini.

Ronald berusaha mengatur nafasnya yang memburu dan terasa sesak, ia hembuskan nafasnya berkali-kali untuk mengurangi rasa sesak di dalam dadanya.

Dan semua itu tak lepas dari pandangan Fania sejak tadi, Fania hanya mampu terdiam dan merasa bersalah setelah jujur mengungkapkan isi hatinya, apa ia sudah salah, harusnya ia tak jujur mengatakan semua itu.

Ada sebersit penyesalan dalam hatinya, namun ia tepis, karena menurutnya akan lebih baik jika Ronald tahu dibanding ia memendamnya keresahannya sendiri.

Melihat Ronald yang tampak menyedihkan seperti itu, membuat perasaan tidak tega menyusup dalam hati Fania, ingin rasanya ia raih suaminya itu untuk ia bawa dalam dekapan hangatnya.

Namun teringat kembali apa yang sudah ia katakan, Fania sadar jelas bahwa dirinya penyebab suaminya menjadi seperti itu, hingga suara Ronald mengehentikan lamunannya.

“Jadi maumu apa sekarang?” tanya Ronald dengan wajah datarnya, setelah berhasil mengendalikan rasa sesak di hatinya.

Fania menunduk dalam, melihat bagaimana tatapan Ronald yang begitu datar, dan sungguh itu membuatnya takut dan tak nyaman.

“Aku tak ingin kita berpisah, karena aku yakin ini hanya sementara. Dan aku akan mencintaimu lagi.” Jelas Fania dengan begitu yakin, dan begitu entengnya.

Sontak hal itu membuat Ronald tersenyum sinis, ada perih yang kembali menyusup dalam hatinya, semudah itu istrinya berucap padanya, seolah apa yang semua dikatakan tak menyakiti dirinya.

“Lalu bagaimana kalau kamu tetap tak mencintaiku lagi?” tanya Ronald dengan sarkas.

Fania terdiam mendengar ujaran sarkas Ronald, benar hal itu tak pernah ia pikirkan sebelumnya, lalu ia akan bagaimana jika itu terjadi?

Tapi memikirkan perpisahan bersama Ronald, jelas hal itu tidak pernah Ia inginkan, bahkan tak pernah terbesit untuk berpisah dari suaminya itu.

“Aku… aku juga tak tahu, tapi bisakah kita jalani ini dulu? Biarkan waktu yang akan menjawabnya.” Fania menjawab sesuai yang terlintas dalam pikirannya.

Kembali, Ronald mengulas senyum sinisnya. “Semudah itu kamu bicara? Aku tak pernah sedikitpun tak mencintai kamu. Apa kamu sebenarnya mencintai orang lain, saat ini?” sarkas Ronald yang tak mampu lagi menahan geramnya.

Mengingat Fania yang selalu bekerja di luar rumah, bertemu dengan banyak orang-orang hebat, tak menutup kemungkinan bukan, jika Fania bertemu dan jatuh cinta pada seorang pria yang menarik perhatiannya.

Sebagai seorang desainer terkenal, tentu saja Fania memiliki banyak partner bisnis yang cukup menarik dan menawan.

"Ronald, bukankah kamu bilang tak akan marah kalau aku jujur?"

NEXT .......

Episodes
1 BAB 1
2 BAB 2
3 BAB 3
4 BAB 4
5 BAB 5
6 BAB 6
7 BAB 7
8 BAB 8
9 BAB 9
10 BAB 10
11 BAB 11
12 BAB 12
13 BAB 13
14 BAB 14
15 BAB 15
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20
21 BAB 21
22 BAB 22
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28
29 BAB 29
30 BAB 30
31 BAB 31
32 BAB 32
33 BAB 33
34 BAB 34
35 BAB 35
36 BAB 36
37 BAB 37
38 BAB 38
39 BAB 39
40 BAB 40
41 BAB 41
42 BAB 42
43 BAB 43
44 BAB 44
45 BAB 45
46 BAB 46
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 BAB 55
56 BAB 56
57 BAB 57
58 BAB 58
59 BAB 59
60 BAB 60
61 BAB 61
62 BAB 62
63 BAB 63
64 BAB 64
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70
71 BAB 71
72 BAB 72
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 BAB 78
79 BAB 79
80 BAB 80
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86
87 BAB 87
88 BAB 88
89 BAB 89
90 BAB 90
91 BAB 91
92 BAB 92
93 BAB 93
94 BAB 94
95 BAB 95
96 BAB 96
97 BAB 97
98 BAB 98
99 BAB 99
100 BAB 100
101 BAB 101
102 BAB 102
103 BAB 103
104 BAB 104
105 BAB 105
106 BAB 106
107 BAB 107
108 BAB 108
109 BAB 109
110 BAB 110
111 BAB 111
112 BAB 112
113 BAB 113
114 BAB 114
115 BAB 115
116 BAB 116
117 BAB 117
118 BAB118
119 BAB 119
120 BAB 120
121 BAB 121
122 BAB 122
123 BAB 123
124 BAB 124
125 BAB 125
126 BAB 126
127 BAB 127
128 BAB 128
129 BAB 129
130 BAB 130
131 BAB 131
132 BAB 132
133 BAB 133
134 BAB 134
135 BAB 135
136 BAB 136
137 BAB 137
138 BAB 138
139 BAB 139
140 BAB 140
141 BAB 141
142 BAB 142
143 BAB 143
144 BAB 144
145 BAB 145
146 BAB 146
147 BAB 147
148 BAB 148
149 BAB 149
150 BAB 150
151 BAB 151
152 BAB 152
153 BAB 153
154 BAB 154
155 BAB 155
156 BAB 156
157 BAB 157
158 BAB 158
159 BAB 159
160 BAB 160 SELESAI
Episodes

Updated 160 Episodes

1
BAB 1
2
BAB 2
3
BAB 3
4
BAB 4
5
BAB 5
6
BAB 6
7
BAB 7
8
BAB 8
9
BAB 9
10
BAB 10
11
BAB 11
12
BAB 12
13
BAB 13
14
BAB 14
15
BAB 15
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20
21
BAB 21
22
BAB 22
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28
29
BAB 29
30
BAB 30
31
BAB 31
32
BAB 32
33
BAB 33
34
BAB 34
35
BAB 35
36
BAB 36
37
BAB 37
38
BAB 38
39
BAB 39
40
BAB 40
41
BAB 41
42
BAB 42
43
BAB 43
44
BAB 44
45
BAB 45
46
BAB 46
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
BAB 55
56
BAB 56
57
BAB 57
58
BAB 58
59
BAB 59
60
BAB 60
61
BAB 61
62
BAB 62
63
BAB 63
64
BAB 64
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70
71
BAB 71
72
BAB 72
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
BAB 78
79
BAB 79
80
BAB 80
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86
87
BAB 87
88
BAB 88
89
BAB 89
90
BAB 90
91
BAB 91
92
BAB 92
93
BAB 93
94
BAB 94
95
BAB 95
96
BAB 96
97
BAB 97
98
BAB 98
99
BAB 99
100
BAB 100
101
BAB 101
102
BAB 102
103
BAB 103
104
BAB 104
105
BAB 105
106
BAB 106
107
BAB 107
108
BAB 108
109
BAB 109
110
BAB 110
111
BAB 111
112
BAB 112
113
BAB 113
114
BAB 114
115
BAB 115
116
BAB 116
117
BAB 117
118
BAB118
119
BAB 119
120
BAB 120
121
BAB 121
122
BAB 122
123
BAB 123
124
BAB 124
125
BAB 125
126
BAB 126
127
BAB 127
128
BAB 128
129
BAB 129
130
BAB 130
131
BAB 131
132
BAB 132
133
BAB 133
134
BAB 134
135
BAB 135
136
BAB 136
137
BAB 137
138
BAB 138
139
BAB 139
140
BAB 140
141
BAB 141
142
BAB 142
143
BAB 143
144
BAB 144
145
BAB 145
146
BAB 146
147
BAB 147
148
BAB 148
149
BAB 149
150
BAB 150
151
BAB 151
152
BAB 152
153
BAB 153
154
BAB 154
155
BAB 155
156
BAB 156
157
BAB 157
158
BAB 158
159
BAB 159
160
BAB 160 SELESAI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!