Kehamilan Fania memasuki minggu-minggu berikutnya. Mualnya masih datang sesekali.
Tubuhnya masih mudah lelah. Namun perlahan ia mulai bisa beraktivitas lebih nyaman dibanding sebelumnya.
Setidaknya itu yang dirasakan Fania. Sayangnya Ronald tidak berpikir demikian.
Dan itu mulai menjadi masalah.
Pagi itu Fania sedang berdiri di dapur. Ia hanya ingin mengambil segelas air. Sesederhana itu. Namun baru saja tangannya menyentuh gelas, suara Ronald terdengar dari ruang makan.
"Sayang!"
Fania menoleh. "Iya?"
"Kamu ngapain?"
"Mau minum."
"Aku ambilin."
Fania berkedip. "Loh, aku tinggal ambil sendiri."
"Tunggu." Ronald langsung bangkit dari kursinya.
Lima detik kemudian gelas itu sudah berada di tangannya. Bahkan airnya sudah diisi. Lengkap siap diminum.
Fania menatapnya lama. "Nald."
"Hm?"
"Aku masih bisa ambil air sendiri."
Ronald mengangguk santai. "Aku tau."
"Terus kenapa diambilin?"
"Biar aku aja."
Fania membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Karena tidak tahu harus menjawab apa. Awalnya Fania menganggap itu lucu. Namun semakin hari Ronald semakin berlebihan. Sangat berlebihan.
Kalau Fania berdiri terlalu cepat. "Hati-hati."
Kalau Fania naik tangga. "Pelan-pelan."
Kalau Fania mengangkat bantal. "Biar aku."
Kalau Fania membawa tas kecil. "Sini aku bawain."
Kalau Fania ingin mengambil charger yang jatuh ke lantai. "Tunggu!"
Sampai suatu sore Fania benar-benar tidak tahan. Saat itu ia sedang duduk di sofa. Remote televisi berada di meja tepat di depannya. Jaraknya bahkan tidak sampai setengah meter.
Fania baru saja mengulurkan tangan ketika Ronald berkata cepat.
"Jangan."
Fania membeku.
Ronald langsung mengambil remote itu lalu memberikannya. "Nih."
Fania menatap remote. Lalu menatap Ronald. Lalu remote lagi. Lalu Ronald lagi.
"Nald."
"Iya?"
"Itu jaraknya cuma segini."
Ronald terlihat tidak bersalah. "Iya."
"Aku tinggal ngambil."
"Iya."
"Terus kenapa kamu ambilin?"
Ronald berpikir beberapa detik. Kemudian menjawab dengan sangat serius.
"Takut kamu kecapekan."
Fania sampai t…
RONALD & FANIA
BAB 81
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments