Keesokan paginya, Ronald terbangun lebih awal.
Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Sudah beberapa hari ia tidak tidur di rumah.
Harusnya pagi ini terasa menyenangkan.
Namun entah mengapa, dadanya justru dipenuhi kegelisahan.
Ia menoleh ke samping.
Fania sudah tidak ada di tempat tidur.
Seperti biasa, istrinya pasti sedang menyiapkan sarapan.
Ronald menghela napas pelan sebelum akhirnya bangkit.
Di dapur, Fania sedang menggoreng telur ketika mendengar langkah kaki Ronald.
"Pagi."
"Pagi."
Ronald mengambil segelas air putih.
"Kamu bangun pagi banget."
"Biasanya juga begini."
Ronald mengangguk pelan.
Ia memperhatikan wajah Fania.
Wanita itu masih terlihat cantik seperti biasanya.
Tetapi senyum cerianya seolah semakin sulit ditemukan.
"Aku bantu, ya?"
Ronald tiba-tiba menawarkan.
Fania menoleh, sedikit terkejut.
"Nggak usah."
"Nggak apa-apa."
"Aku bisa sendiri."
Kalimat itu membuat Ronald terdiam.
Dulu...
Fania pasti akan langsung menyerahkan spatula sambil tertawa.
Sekarang...
Ia memilih mengerjakannya sendiri.
Bukan karena tidak ingin dibantu.
Melainkan karena sudah terbiasa melakukan semuanya tanpa bergantung.
Mereka sarapan bertiga.
Putra mereka bercerita panjang lebar tentang mainan baru yang dibawa Ronald dari Singapura.
Ronald mendengarkan sambil sesekali tertawa.
Fania ikut tersenyum melihat ayah dan anak itu bercanda.
Momen itu terasa hangat.
Namun hanya berlangsung sesaat.
Begitu Ronald selesai makan, ponselnya berdering.
Ia mengangkatnya.
"Iya."
"Baik."
"Nanti saya ke kantor."
Panggilan itu hanya berlangsung beberapa menit.
Namun cukup untuk mengubah suasana.
Ronald menatap Fania.
"Maaf."
"Ada rapat dadakan."
Fania mengangguk.
"Iya."
"Padahal hari ini aku pengin di rumah."
"Nggak apa-apa."
"Kerja dulu aja."
Jawaban itu terdengar sangat dewasa.
Terlalu dewasa.
Dan lagi-lagi membuat Ronald kehilangan kesempatan untuk merasa dibutuhkan.
Setelah Ronald pergi, rumah kembali sunyi.
Putra mereka bermain sendiri di ruang tamu.
S…
RONALD & FANIA
BAB 129
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments