Hari-hari setelah itu tidak juga membaik justru sebaliknya.
Kesibukan Ronald semakin padat. Proyek yang ditanganinya memasuki tahap paling krusial sehingga hampir setiap keputusan harus melalui dirinya.
Telepon tidak pernah berhenti berdering. Laptop selalu terbuka. Bahkan ketika sudah berada di rumah, pikirannya masih dipenuhi pekerjaan.
Di sisi lain, butik Fania juga sedang berkembang pesat.
Cabang baru akhirnya resmi dibuka.
Media mulai meliput.
Pesanan meningkat hampir dua kali lipat dibanding sebelumnya.
Yang dulu hanya sesekali datang ke butik, kini Fania kembali terjun langsung mengawasi hampir semua proses.
Mereka sama-sama sibuk.
Sama-sama lelah.
Dan sama-sama mulai kehilangan waktu untuk saling mendengarkan.
Suatu malam, Ronald baru menyadari jam sudah menunjukkan pukul sembilan.
Ia buru-buru mengambil ponselnya.
Ada enam panggilan tak terjawab dari Fania.
Jantungnya langsung berdegup.
Tanpa pikir panjang, ia segera menghubungi kembali.
Baru satu dering, telepon langsung diangkat.
"Halo?"
Suara Fania terdengar datar.
"Kamu kenapa? Dari tadi nelpon."
"Nggak kenapa-kenapa."
"Terus?"
"Tadi cuma mau ngasih tahu kalau anak kita tampil di sekolah."
Ronald membeku.
"Tampil?"
"Iya."
"Hari ini?"
"Iya."
Ada jeda beberapa detik.
Ronald benar-benar lupa.
Padahal seminggu lalu Fania sudah berkali-kali mengingatkannya.
Bahkan putra mereka sendiri dengan semangat mengatakan bahwa Ayah harus datang melihatnya menyanyi.
Namun di tengah tumpukan pekerjaan, semuanya hilang dari ingatan.
"Aku..."
Ronald menarik napas panjang.
"Maaf."
"Nggak apa-apa."
Jawaban itu justru terdengar lebih menyakitkan.
Karena Fania mengucapkannya tanpa emosi.
Tanpa marah.
Tanpa kecewa.
Seolah sudah menerima kenyataan.
Malam itu Ronald pulang lebih cepat dari biasanya.
Begitu membuka pintu rumah, putra mereka langsung berlari menghampiri.
"Papa!"
Ronald langsung menggendongnya.
"Gimana pentasnya?"
Anak kecil itu tersenyum.
"Aku nyanyi."
"Iya."
"Aku lihat Mama."
"Lalu?"
"Aku cari Papa."
Kalimat itu…
RONALD & FANIA
BAB 96
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments