Pagi berikutnya, Fania terbangun lebih awal dari biasanya.
Cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar. Di sampingnya, Ronald masih tertidur pulas. Wajah lelaki itu terlihat begitu tenang, berbeda dengan ekspresinya semalam ketika membicarakan tawaran proyek dari kantor pusat.
Fania menatapnya beberapa saat.
Ia tahu keputusan itu tidak mudah.
Bagi Ronald, proyek tersebut bukan hanya tentang uang atau jabatan.
Itu adalah kesempatan untuk membuktikan kemampuan yang selama ini ia bangun melalui kerja keras.
Namun di sisi lain, Fania juga tahu bahwa dirinya masih dalam proses memulihkan kepercayaan.
Ia menarik napas panjang.
Pelan-pelan, Fania bangun dari tempat tidur.
Ketika hendak meninggalkan kamar, suara Ronald terdengar.
"Kamu mau ke mana?"
Fania menoleh.
"Kamu udah bangun?"
Ronald mengangguk sambil mengusap wajah.
"Aku kira kamu masih tidur."
"Aku mau ke dapur."
Ronald langsung bangkit.
"Jangan."
Fania mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Biar aku."
"Nald, aku cuma mau bikin sarapan."
"Aku bisa."
Fania tertawa kecil.
"Sejak kapan kamu rajin banget ke dapur?"
"Sejak aku tahu ternyata masak itu nggak sesulit yang aku kira."
Fania mengangkat alis.
"Yakin?"
"Yakin."
"Lima menit kemudian jangan panggil aku."
Ronald tertawa.
"Kalau gagal, aku panggil."
Mereka akhirnya turun bersama.
Pagi itu terasa ringan.
Namun di balik tawa kecil mereka, keputusan besar yang harus dibuat Ronald masih menggantung.
---
Setelah sarapan, Ronald bersiap berangkat.
Sebelum keluar rumah, ia berhenti di depan Fania.
"Aku akan kasih jawaban ke kantor hari ini."
Fania mengangguk.
"Jangan terburu-buru."
Ronald memandangnya.
"Aku sudah pikirkan."
"Lalu?"
Ronald tersenyum tipis.
"Aku akan ambil."
Fania terdiam beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum.
"Bagus."
Ronald terlihat sedikit terkejut.
"Kamu nggak kecewa?"
"Kenapa harus kecewa?"
"Karena aku mungkin akan sering pergi."
Fania menggeleng.
"Aku ingin kamu berkembang."
"Dan aku ingin kamu tetap punya kesempatan untuk mengejar sesuatu yang kamu ingin…
RONALD & FANIA
BAB 154
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments