Subuh itu, alarm ponsel Ronald berbunyi lebih awal dari biasanya.
Perjalanan dinas yang selama beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya akhirnya tiba.
Ronald mematikan alarm, lalu menoleh ke sisi ranjang.
Fania masih tertidur.
Wajahnya terlihat damai, membuat Ronald sesaat berharap waktu berjalan lebih lambat.
Ia ingin tinggal sedikit lebih lama.
Namun kenyataan tidak memberinya pilihan.
Ronald turun ke dapur untuk membuat kopi.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki pelan.
Fania muncul dengan mengenakan cardigan tipis.
"Mas... kok nggak bangunin aku?"
Ronald tersenyum.
"Aku kasihan."
"Mas berangkat, masa aku tidur."
Fania langsung mengambil cangkir dan menyiapkan teh hangat.
Ronald memperhatikannya.
"Katanya jangan banyak bergerak pagi-pagi."
Fania terkekeh pelan.
"Ini cuma bikin teh."
Ronald akhirnya tidak membantah.
Ia menikmati pagi itu dengan tenang.
Mungkin untuk beberapa hari ke depan, ia akan sangat merindukan suasana sederhana seperti ini.
Tak lama kemudian, putra mereka ikut bangun.
Dengan mata yang masih mengantuk, ia berlari memeluk Ronald.
"Papa..."
Ronald mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
"Iya, Jagoan."
"Papa jadi pergi?"
"Iya."
"Nggak lama?"
Ronald menggeleng.
"Nggak."
"Cuma sebentar."
Anak kecil itu mengangguk, meski wajahnya tampak sedikit murung.
"Lupa jangan bawa oleh-oleh ya."
Ronald tertawa.
"Lho, kenapa?"
"Soalnya aku maunya Papa cepat pulang."
Ucapan polos itu membuat Ronald dan Fania saling berpandangan.
Hati mereka sama-sama menghangat.
Ronald mencium pipi putranya.
"Papa janji."
Mobil kantor datang tepat pukul enam pagi.
Koper Ronald sudah siap di ruang tamu.
Sebelum keluar rumah, ia kembali mengecek semua obat Fania yang tersusun rapi di meja.
"Vitamin diminum setelah sarapan."
"Iya."
"Kalau pusing lagi?"
"Aku langsung istirahat."
"Kalau masih pusing?"
Fania tersenyum kecil.
"Ke dokter."
Ronald mengangguk puas.
"Nah, gitu."
Saat Ronald hendak melangkah keluar, Fania tiba-tiba memanggilnya.
"Mas."
Ronald berbalik.
"Iya?"
F…
RONALD & FANIA
BAB 142
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments