Beberapa minggu setelah hari pertama sekolah, kehidupan keluarga kecil itu kembali berjalan seperti biasa.
Ronald sibuk bekerja.
Fania sesekali datang ke butik untuk memantau perkembangan usaha yang kini sebagian besar dikelola oleh Livia.
Sedangkan putra mereka tetap menjadi pusat keramaian di rumah.
Bahkan semakin hari energinya terasa semakin tidak ada habisnya.
Kadang Fania sampai heran bagaimana anak sekecil itu bisa berlari, melompat, berbicara, bernyanyi, lalu kembali berlari tanpa terlihat lelah sedikit pun.
Berbeda dengan dirinya yang terkadang sudah ingin rebahan setelah setengah hari beraktivitas.
Pagi itu Fania sedang membereskan beberapa dokumen butik di ruang kerja rumah ketika putranya datang membawa kertas gambar.
"Mama."
"Iya, Sayang?"
"Lihat."
Anak itu mengangkat kertasnya tinggi-tinggi.
Fania langsung tersenyum.
Sejak mulai sekolah, hampir setiap hari ada gambar baru yang dibawanya pulang.
Ada gambar rumah.
Ada gambar mobil.
Ada gambar dinosaurus yang bentuknya lebih mirip ayam.
Dan semuanya selalu dipuji oleh Fania.
Karena bagaimanapun juga, itu adalah hasil karya anaknya.
"Hari ini gambar apa?"
tanya Fania.
"Aku."
"Yang mana?"
"Ini."
Jari kecilnya menunjuk sosok berbentuk bulat dengan empat garis tipis sebagai tangan dan kaki.
Fania menahan senyum.
"Oooh."
"Lalu ini Mama."
Fania melihat gambar lain yang ukurannya jauh lebih besar.
Bahkan hampir memenuhi setengah halaman.
"Kenapa Mama besar banget?"
Anak itu berpikir beberapa detik.
Karena bagi anak kecil, semua pertanyaan memang harus dipikirkan serius.
"Karna aku sayang Mama."
Jawaban sederhana itu langsung membuat hati Fania meleleh.
Benar-benar meleleh.
"Papa mana?"
tanya Fania.
"Papa di sini."
Kali ini sosok Ronald muncul di samping gambar mereka.
Tidak kalah unik.
Dan tidak kalah abstrak.
Namun yang membuat Fania tertawa adalah ukuran gambar Ronald.
Jauh lebih kecil dibanding dirinya.
"Loh?"
Fania mengangkat alis.
"Kenapa Papa kecil?"
Putranya langsung menjawab polos.
"Karna Papa kerja teru…
RONALD & FANIA
BAB 93
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments