Pagi itu datang dengan cahaya matahari yang lembut.
Tidak ada hujan.
Tidak ada langit mendung.
Hanya suara burung yang sesekali terdengar dari halaman rumah.
Fania berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya. Dari luar kamar terdengar suara Ronald dan putra mereka yang sedang bercanda.
"Papa!"
"Iya?"
"Dasiku miring."
"Mana sini."
"Jangan salah."
Ronald tertawa.
"Papa sudah ahli."
Fania tersenyum mendengar percakapan itu.
Ia kemudian keluar dari kamar.
"Sudah selesai?"
Ronald menoleh.
"Sudah."
Putra mereka langsung berlari menghampiri Fania.
"Mama!"
Fania membungkuk dan merapikan kerah seragamnya.
"Nah, sekarang sudah rapi."
Ronald memperhatikan keduanya sambil tersenyum.
Pemandangan itu terasa sederhana.
Namun bagi Ronald, justru itulah sesuatu yang dulu hampir ia kehilangan.
Keluarganya.
Rumahnya.
Dan kesempatan untuk pulang.
Setelah mengantar putra mereka ke sekolah, Ronald dan Fania tidak langsung kembali ke rumah.
Mereka berhenti sebentar di sebuah taman.
Taman yang dahulu sering mereka datangi ketika masih muda.
Fania berjalan perlahan di samping Ronald.
"Kenapa ngajak ke sini?"
Ronald tersenyum.
"Aku cuma ingin mengingat sesuatu."
"Apa?"
"Dulu kita pernah duduk di bangku itu."
Ia menunjuk sebuah bangku di bawah pohon besar.
Fania tertawa kecil.
"Kamu masih ingat?"
"Ingat."
"Malam itu kamu bilang ingin punya rumah sendiri."
Ronald mengangguk.
"Dan sekarang?"
Fania menatapnya.
"Sudah punya."
Ronald menggenggam tangan istrinya.
"Bukan cuma rumah."
"Kita punya keluarga."
Fania tersenyum.
Mereka duduk berdampingan.
Tidak ada percakapan panjang.
Hanya menikmati udara pagi dan kenangan yang perlahan kembali.
Beberapa menit kemudian, Ronald mengeluarkan sesuatu dari saku.
Sebuah kunci.
Fania mengerutkan kening.
"Apa itu?"
Ronald menyerahkannya.
"Kunci rumah."
Fania tertawa.
"Kenapa dikasih?"
"Karena aku ingin kamu selalu ingat."
"Ingat apa?"
"Rumah itu bukan cuma milikku."
"Itu milik kita."
Fania menggenggam kunci tersebut.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kena…
RONALD & FANIA
BAB 160 SELESAI
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 160 Episodes
Comments